PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Seekor tarsius, primata nokturnal yang dikenal sebagai salah satu primata terkecil di dunia, diserahkan masyarakat kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Kalimantan Tengah pada Jumat, 29 Mei 2026. Satwa endemik Kalimantan itu sebelumnya diamankan warga usai ditemukan di kawasan Jalan G Obos 8, Kota Palangka Raya.

Penyerahan dilakukan melalui Klinik Hewan Paws Health kepada pihak BKSDA Kalteng. Dari pihak klinik hadir dokter hewan drh Dinda Rahma Hadiputri, sementara BKSDA diwakili Staf BKSDA Kalteng sekaligus anggota Polisi Kehutanan (Polhut), Nurwachid, didampingi Medik Veteriner Ahli Pratama, drh Novia Rahmawati Faizah.

drh Dinda menjelaskan, tarsius tersebut pertama kali dilaporkan masyarakat kepada akun media sosial RSAT Palangka Raya, relawan yang dikenal sebagai rescuer hewan terlantar. Pelapor mengaku menemukan satwa itu berada di pohon nangka di belakang rumahnya sebelum kemudian diamankan.

“Awalnya masyarakat sudah melapor melalui Instagram BKSDA, tetapi belum mendapat tanggapan. Setelah itu laporan diteruskan ke akun Instagram RSAT,” ujar drh Dinda kepada Borneonews.

Laporan tersebut diterima pemilik akun RSAT Palangka Raya, Agung Priantoko. Setelah menerima informasi, Agung kemudian menjemput satwa tersebut dan membawanya ke Klinik Hewan Paws Health untuk mendapatkan penanganan medis awal.

Menurut drh Dinda, langkah itu dilakukan karena tarsius merupakan satwa liar yang dilindungi sehingga membutuhkan penanganan sesuai prosedur konservasi. Setelah dilakukan pemeriksaan, pihak klinik segera berkoordinasi dengan BKSDA Kalteng melalui drh Novia agar satwa dapat ditangani lebih lanjut oleh instansi berwenang.

“Karena ini satwa liar dilindungi, kami langsung menghubungi pihak BKSDA dan responsnya cepat. Hari ini langsung dilakukan penjemputan,” katanya lagi.

Di balik proses penyelamatan tersebut, BKSDA Kalteng menilai masih diperlukan edukasi kepada masyarakat terkait cara memperlakukan satwa liar yang ditemukan di sekitar permukiman. Nurwachid menjelaskan, tidak semua satwa liar harus diamankan ketika terlihat berada di lingkungan warga.

Ia menuturkan, satwa liar pada dasarnya memiliki kemampuan bertahan hidup sendiri di habitatnya. Kehadiran satwa di sekitar rumah warga belum tentu menandakan satwa itu membutuhkan pertolongan manusia.

“Cara terbaik membantu satwa liar sebenarnya dengan membiarkan mereka mencari makan di sekitar kita tanpa diganggu. Biarkan mereka lewat dan kembali ke kelompoknya,” ujarnya.

Menurutnya, niat masyarakat yang mengamankan satwa sering kali dilandasi rasa iba atau kepedulian. Namun tanpa disadari, tindakan tersebut dapat memengaruhi naluri alami satwa liar, termasuk kemampuan bertahan hidup dan beradaptasi di habitatnya.

Fenomena masuknya satwa liar ke kawasan permukiman sendiri dinilai tidak bisa dilepaskan dari semakin dekatnya batas antara ruang hidup manusia dan habitat alami satwa. Di sejumlah wilayah perkotaan di Kalimantan, satwa liar kerap ditemukan di pekarangan rumah, kebun, hingga kawasan hijau tersisa yang masih menjadi jalur jelajah satwa.

Karena itu, edukasi konservasi dinilai menjadi bagian penting agar masyarakat memahami kapan satwa liar perlu diselamatkan dan kapan sebaiknya dibiarkan kembali ke habitatnya. BKSDA Kalteng berharap masyarakat tetap melapor apabila menemukan satwa liar, terutama satwa dilindungi, namun tetap mengedepankan prinsip tidak mengganggu dan meminimalkan kontak langsung dengan satwa. (TESTI PRISCILLA/j)