KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas – "Dari lahir kami sudah kenal". Kalimat itu ditulis seorang warga Kalimantan Tengah, Bernhard Isa, menanggapi pengumuman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyebut Solanum kalimantanense sebagai spesies baru terong berduri asal Kalimantan. Bagi Bernhard, tanaman tersebut bukan sesuatu yang asing.

“Namanya rimbang atau torung. Pada umumnya, sebagai tanaman wajib masyarakat Dayak dan Melayu di ladang atau huma,” tulisnya dalam kolom komentar media sosial, Jumat, 29 Mei 2026.

Komentar serupa mungkin juga muncul di benak banyak warga Kalimantan. Bagaimana mungkin tanaman yang sudah lama tumbuh di ladang, dijual di pasar, bahkan dimakan turun-temurun tiba-tiba disebut sebagai spesies baru?

Jawabannya ternyata bukan karena BRIN baru menemukan tanaman itu di alam. Dalam siaran pers Nomor 60/SP/HM/BKPUK/V/2026 yang diterbitkan 23 Mei 2026, BRIN justru mengakui tanaman tersebut telah lama dikenal masyarakat dengan sebutan terong asam atau terong dayak dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

Buahnya bahkan disebut banyak dijumpai di pasar terapung Banjarmasin dan umum diolah sebagai sayuran. Di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, daun dan kuncup buahnya juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional yang dikenal dengan istilah “wikat”.

Yang baru bukan tanamannya, melainkan pengakuan ilmiahnya. Setelah melakukan eksplorasi lapangan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada periode 2022 hingga 2024, para peneliti BRIN menemukan bahwa tanaman tersebut memiliki karakter yang berbeda dari spesies yang selama ini dianggap paling dekat kekerabatannya.

Perbedaan itu tidak hanya terlihat dari bentuk daun dan buahnya. Analisis DNA menggunakan penanda ITS juga menunjukkan adanya perbedaan genetik yang cukup signifikan dibanding spesies kerabat terdekatnya, Solanum lasiocarpum.

Berdasarkan hasil itulah, para peneliti menetapkannya sebagai spesies tersendiri dan memberi nama Solanum kalimantanense. Temuan tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal internasional Taprobanica Volume 15 Nomor 1 Tahun 2026 melalui artikel berjudul A New Spiny Eggplant Species of the Genus Solanum L. (Angiosperms: Solanaceae) from Indonesian Borneo.

Peneliti BRIN, Muhammad Rifqi Hariri menyebut, temuan itu menunjukkan masih banyak kekayaan hayati Indonesia yang belum terdokumentasi secara ilmiah meski telah lama dikenal masyarakat.

“Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah, termasuk dari kelompok tumbuhan yang telah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya dalam siaran pers tersebut.

Ketika BRIN menyebut Solanum kalimantanense sebagai spesies baru, yang dimaksud bukan tanaman yang baru dikenal warga Kalimantan. Sebaliknya, tanaman yang telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat itu kini memperoleh identitas resmi dalam dunia ilmu pengetahuan. Apa yang selama ini dikenal warga sebagai terong dayak, kini juga tercatat dalam literatur ilmiah dunia. (SABRIANOOR/y)