PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah bekerja sama dengan pemerintah daerah mengirimkan 10 siswa terbaik untuk mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu atau FTBI Tingkat Nasional yang berlangsung pada 22–26 Mei 2026 lalu. Ajang tahunan ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menampilkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus memperkuat upaya revitalisasi bahasa ibu di Indonesia.

Kepala Balai Bahasa Kalteng, Sukardi Gau, menjelaskan bahwa para peserta merupakan hasil seleksi dari program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) tahun 2025.

“Kami bangga bisa mengirimkan perwakilan dari berbagai kabupaten. Ini menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga keberagaman bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya bangsa,” kata Sukardi Gau pada Minggu, 31 Mei 2026.

Adapun 10 siswa yang dikirim berasal dari Kabupaten Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin Barat, Sukamara, dan Lamandau. Mereka terdiri atas empat juara I FTBI Tingkat Provinsi 2025 untuk bahasa Dayak Ngaju, Dayak Maanyan, Dayak Bakumpai, dan Melayu Dialek Kotawaringin, serta enam peserta ekshibisi yang menampilkan bahasa Tawoyan, Melayu Dialek Sukamara, dan Dayak Sampit.

Menurut Sukardi, keikutsertaan siswa Kalteng di FTBI Nasional bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga sarana memperkuat kebanggaan terhadap bahasa daerah.

“Bahasa ibu adalah warisan budaya yang harus kita rawat. Melalui festival ini, anak-anak belajar mencintai bahasa daerah sekaligus menggunakannya dalam konteks modern,” tambahnya.

Ia menambahkan, program revitalisasi bahasa daerah yang digulirkan sejak 2023 telah memberi dampak positif. Banyak sekolah dan komunitas lokal kini lebih aktif mengajarkan bahasa daerah kepada generasi muda.

“Kami berharap dukungan masyarakat dan pemerintah daerah terus menguat, sehingga bahasa daerah tidak hanya bertahan, tetapi berkembang,” tegasnya lagi.

Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Nasional 2026 menjadi momentum penting bagi Kalimantan Tengah untuk menunjukkan kekayaan linguistiknya. Dengan partisipasi para siswa, diharapkan bahasa daerah tetap hidup dan menjadi bagian integral dari pembangunan budaya bangsa. (TESTI PRISCILLA/j)