JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Paris Saint Germain (PSG) akhirnya menorehkan keberhasilan besar dengan menjuarai Liga Champions 2026 setelah menaklukkan Arsenal melalui adu penalti 4-3 pada final yang berlangsung di Puskas Arena, Budapest, Hungaria.

Pertandingan berlangsung ketat selama 120 menit dengan skor imbang 1-1. Arsenal sempat unggul lebih dulu melalui gol Kai Havertz, sebelum PSG menyamakan kedudukan lewat eksekusi penalti Ousmane Dembele di babak kedua.

Kemenangan ini sekaligus menghentikan catatan tak terkalahkan Arsenal di kompetisi Liga Champions musim ini, sekaligus menggagalkan ambisi The Gunners meraih gelar perdana mereka di ajang elite Eropa tersebut.

Secara statistik, PSG tampil dominan sepanjang laga. Tim asuhan Luis Enrique menguasai 65 persen penguasaan bola, berbanding 35 persen milik Arsenal, serta menciptakan 21 peluang dengan empat di antaranya mengarah tepat ke gawang.

Sementara itu, Arsenal hanya mampu melepaskan delapan tembakan dengan satu yang tepat sasaran. PSG juga unggul dalam penetrasi ke area berbahaya dengan 13 kali masuk ke kotak penalti lawan.

Meski mendominasi, PSG tetap kesulitan membongkar pertahanan rapat Arsenal yang dikawal William Saliba dan Gabriel Magalhaes serta penampilan solid kiper David Raya. Hal itu membuat laga harus dilanjutkan hingga babak adu penalti untuk menentukan juara.

Di balik kesuksesan tersebut, peran pelatih Luis Enrique menjadi sorotan utama. Ia dinilai berhasil melakukan reformasi besar di tubuh PSG setelah era yang dipenuhi pemain bintang seperti Neymar, Lionel Messi, dan Kylian Mbappe.

Sejak menangani PSG pada 2023, Enrique membangun tim dengan pendekatan kolektif yang menekankan kerja sama, disiplin, dan keseimbangan antar lini. Perubahan itu membuat PSG tidak lagi bergantung pada individu, melainkan kekuatan tim secara keseluruhan.

Transformasi tersebut terbukti membuahkan hasil. PSG meraih berbagai gelar domestik, termasuk Liga Prancis dan Piala Prancis, serta mencapai prestasi puncak dengan menjuarai Liga Champions secara beruntun.

Pada final ini, kombinasi lini tengah yang diisi Vitinha, Joao Neves, dan Fabian Ruiz serta peran bek sayap Achraf Hakimi dan Nuno Mendes menjadi kunci dominasi permainan PSG.

Mereka mampu menekan Arsenal sejak awal, sekaligus membatasi ruang gerak pemain kunci lawan seperti Bukayo Saka dan Martin Odegaard.

Meski sempat tertinggal, PSG tetap menjaga intensitas serangan hingga akhirnya memaksa pertandingan ditentukan lewat adu penalti, yang kemudian mereka menangkan dengan skor 4-3.

Keberhasilan ini memperkuat citra PSG sebagai tim yang telah bertransformasi menjadi kekuatan baru di Eropa. Presiden klub Nasser Al-Khelaifi menegaskan bahwa klub kini menempatkan tim di atas individu, bukan lagi bertumpu pada superstar.

Dengan filosofi baru tersebut, PSG kini dipandang sebagai klub yang tidak hanya sukses secara jangka pendek, tetapi juga memiliki fondasi kuat untuk mempertahankan dominasi di level Eropa dalam jangka panjang.

ANTARA