KUALA KURUN –

BORNEONEWS, Kuala Kurun - Angin sepoi menerjang, namun batu yang menjulang tinggi itu tidak goyah, Batu Suli namanya. Batu yang tinggi itu merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Gunung Mas, berdiam gagah di tepi Sungai Kahayan, tepatnya di Desa Wisata Upon Batu, Kecamatan Tewah Kabupaten Gunung Mas.

Jarak tempuh dari ibu kota Kabupaten Gunung Mas yakni Kota Kuala Kurun ke Desa Wisata Upon batu cukup dekat hanya sekitar satu jam perjalanan dengan kondisi jalan sudah beraspal. 

Hanya saja, jika menggunakan mobil, kendaraan bisa diparkir di tempat yang telah disediakan, karena untuk menuju Desa Wisata tersebut harus melewati jembatan gantung yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.

Sembari menikmati angin sepoi di atas batu di bawah Batu Suli, seorang juru pelihara Suyanto mulai bercerita, bahwa Batu Suli bukan sakadar bongkahan batu mati, namun sebuah benda yang menyimpan legenda di baliknya.

Kisah raksasa suami istri Grasa dan Grasi yang ada di Puruk Sandukui atau Bukit Telunjuk dan manusia sakti bernama Darung Bawan hingga kisah ikan pipih.

"Konon, Batu Suli merupakan potongan dari Puruk Sandukui yang ada di Kecamatan Miri Manasa," cerita Yanto sembari mengisap rokoknya.

Ketika lapar, kedua raksasa tersebut turun untuk makan hewan ternak milik warga bahkan manusia, hal itu membuat resah masyarakat sekitar.

"Ada orang sakti bernama Darung Bawan marah melihat tingkah kedua raksasa itu, lalu ia memotong Puruk Sandukui dan melempar potongannya hingga jatuh ke Sungai Kahayan di Desa Upon Batu, Kecamatan Tewah,"ujar Yanto sembari mengajak berkeliling.

Ketua Harian Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Gunung Mas Herbert Y Asin turut menambahkan kisah di Balik Batu Suli melalui sambungan telepon.

"Saat batu itu jatuh ke Sungai Kahayan, posisinya melintang, sehingga menutup jalan air," kata Herbert.

Tidak tinggal diam, para ikan di sungai tersebut yakni ikan balida atau yang dikenal dengan nama ikan pipih bersama-sama mengangkat potongan batu itu.

Akhirnya batu itu bisa berdiri tegak dan kata Herbert agar tidak kembali jatuh diganjal menggunakan batang tebu berukuran besar.

"Jika air di Sungai Kahayan sedang surut, batang tebu itu masih bisa terlihat ada di bawah Batu Suli. Coba saja sesekali naik perahu, nanti bisa terlihat," ucap Herbert dari balik telepon yang terdengar sesekali menjawab panggilan cucunya.

Sedangkan dinamakan Batu Suli, kata Herbert karena di sekitar berdirinya batu itu banyak tanaman suli. "Begitu mbak, kisah Batu Suli yang menjadi salah satu ikon di Kabupaten Gunung Mas," tandasnya.

Ternyata masih ada kisah lain di baliknya, yakni terkait bentuk ikan pipih yang konon bagian punggungnya menjadi melengkung lantaran digunakan untuk mengangkat Batu Suli agar bisa berdiri.

"Ya konon, bentuk ikan pipih itu agak melengkung di bagian punggungnya karena waktu itu mereka menggunakan punggungnya untuk mengangkat Batu Suli," tutup Herbert. (RISKA YULYANA/R)