BORNEONEWS, Palangka Raya - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI Kalimantan Tengah menyampaikan keprihatinan atas penurunan harga tandan buah segar atau TBS kelapa sawit yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi pendapatan masyarakat hingga penerimaan daerah.
Sekretaris Eksekutif GAPKI Kalteng, Rawing Rambang, mengatakan rata-rata harga TBS sawit di Kalimantan Tengah sebelumnya berada pada kisaran Rp3.600 per kilogram. Namun saat ini harga mengalami penurunan menjadi sekitar Rp2.800 hingga Rp3.000 per kilogram.
“Kalau kita lihat, terjadi penurunan sekitar 15 hingga 20 persen dibandingkan harga sebelumnya. Mudah-mudahan dalam dua sampai tiga minggu ke depan harga sawit bisa kembali seperti semula,” ujarnya pada Minggu, 31 Mei 2026.
Menurut Rawing, anjloknya harga sawit menjadi perhatian serius karena komoditas tersebut memiliki peran strategis bagi perekonomian Kalimantan Tengah maupun nasional. Industri sawit selama ini menjadi salah satu penopang utama aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di daerah sentra perkebunan.
Ia menilai pemerintah pusat perlu segera mengambil langkah-langkah strategis untuk mengembalikan stabilitas harga. GAPKI berharap berbagai pihak dapat duduk bersama guna mengidentifikasi penyebab penurunan harga dan merumuskan solusi yang tepat.
“Kami berharap pemerintah dapat berkoordinasi dengan pelaku usaha sawit untuk mencari solusi kenapa harga sawit menjadi anjlok. Tentunya ini menjadi perhatian bersama agar kondisi pasar kembali membaik,” kata Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini lagi.
Rawing menambahkan, apabila penurunan harga berlangsung dalam waktu yang lama, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan perkebunan dan petani, tetapi juga berpengaruh terhadap pendapatan daerah maupun nasional. Selain itu, daya beli masyarakat di wilayah-wilayah perkebunan juga berpotensi ikut menurun seiring berkurangnya pendapatan dari sektor sawit.(TESTI PRISCILLA)









