SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Ribuan jemaah memadati kawasan Pondok Pesantren Darul Amin di Jalan HM Arsyad, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dalam pelaksanaan Haul Akbar ke-23 pendiri pesantren tersebut, Muhammad Abrar Dahlan, Minggu, 31 Mei 2026.

Jemaah tidak hanya berasal dari Sampit dan berbagai kecamatan di Kotim, tetapi juga dari Kabupaten Katingan, Kotawaringin Barat, Palangka Raya hingga Kalimantan Selatan. Kehadiran ribuan jemaah menjadi bukti bahwa sosok KH Muhammad Abrar Dahlan masih hidup dalam ingatan dan hati masyarakat, meski telah wafat lebih dari dua dekade lalu.

Pada haul tahun ini, tausiyah agama disampaikan oleh Muhammad Hanif Bin Abdurrahman Al Attas. Kehadiran ulama muda tersebut semakin menarik perhatian masyarakat untuk menghadiri haul tokoh penting di Sampit tersebut. 

Bagi keluarga besar Darul Amin, haul bukan sekadar agenda tahunan. Momentum ini menjadi ruang mengenang perjalanan hidup seorang ulama yang meninggalkan jejak besar dalam dunia pendidikan Islam di Sampit, Kalimantan Tengah.

Pimpinan Pondok Pesantren Darul Amin Ahmad Rayyan Zuhdi Abrar menceritakan bahwa perjalanan hidup KH Muhammad Abrar Dahlan dimulai dari sebuah desa di Kalimantan Selatan.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, beliau sempat bersekolah di tingkat SMP. Namun panggilan hati untuk mendalami ilmu agama membuatnya meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan di pesantren.

Dari dua pilihan yang ditawarkan keluarga, yakni Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih dan Pondok Pesantren Darussalam Martapura, KH Muhammad Abrar Dahlan memilih Ibnu Amin karena jaraknya lebih dekat dan biaya yang lebih terjangkau.

Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan panjang seorang santri yang kelak dikenal luas sebagai ulama dan pendidik di Sampit.

Sejak menjadi santri pada 1968, kemampuan dan dedikasinya membuat beliau dipercaya menjadi tenaga pengajar hanya dua tahun kemudian. Kecintaannya terhadap ilmu terus membawanya menempuh perjalanan lebih jauh.

Beliau sempat belajar di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan Pondok Datu Kalampayan Bangil, Jawa Timur. Di sana, beliau juga menghafal Al-Qur'an hingga 10 juz sebelum akhirnya berangkat ke Kota Makkah pada 1975 untuk memperdalam berbagai disiplin ilmu keislaman.

Di Tanah Suci, KH Muhammad Abrar Dahlan berguru kepada sejumlah ulama besar yang memiliki pengaruh luas dalam dunia Islam. Salah satu guru utamanya adalah Muhammad Yasin Al-Fadani, darinya KH Muhammad Abrar Dahlan memperoleh banyak sanad keilmuan yang menjadi mata rantai penting dalam tradisi keilmuan Islam.

KH Muhammad Abrar Dahlan juga belajar kepada Ismail Usman Zain Al-Yamani dalam bidang hadis dan fikih, serta mengikuti halaqah ilmu yang diasuh Muhammad Alawi Al-Maliki dan Abdullah bin Said Al-Lahji di Masjidil Haram.

Selama lebih dari 15 tahun berada di Makkah, beliau mengumpulkan ilmu, sanad dan pengalaman yang kemudian menjadi bekal besar saat kembali ke Indonesia.

Atas arahan guru-gurunya, KH Muhammad Abrar Dahlan kembali ke tanah air dan mengajar di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih selama lebih dari satu dekade.

Namun semangat dakwah membawanya hijrah ke Sampit. Pada pertengahan 1990-an, beliau mulai merintis Pondok Pesantren Darul Amin yang kemudian resmi berkembang dan dikelola secara penuh sejak 10 Desember 1998.

Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana saat itu, KH Muhammad Abrar Dahlan membangun pesantren dengan semangat perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa.

Lanjutnya, pendiri Darul Amin dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana, disiplin, istiqamah dan tidak pernah mengejar kemewahan dunia.

"Bahkan beliau menjual kebun miliknya demi pembangunan pondok pesantren. Beliau tidak ingin memberi makan keluarganya dari sesuatu yang syubhat dan selalu mengutamakan kepentingan agama di atas kepentingan pribadi," ujarnya.

Selain membangun lembaga pendidikan, KH Muhammad Abrar Dahlan juga meninggalkan sejumlah karya tulis yang hingga kini masih menjadi rujukan. Di antaranya kitab Tasywiqul Khilan fi Ittishalati Muhammad Abrar Dahlan, Tadzkiratul Ikhwan, Ad-Durrus Samin fi Manaqib Syekh Mahfuz Amin, biografi para ulama besar, kitab manasik haji, hingga berbagai karya tentang sanad hadis, tafsir dan fikih.

Warisan tersebut menjadi bukti bahwa perjuangannya tidak hanya membangun gedung pesantren, tetapi juga membangun tradisi keilmuan yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pesan yang Terus Hidup

Menjelang akhir hayatnya pada 11 Zulhijah 1423 Hijriah atau tahun 2003 Masehi, KH Muhammad Abrar Dahlan meninggalkan pesan yang hingga kini terus dijaga keluarga besar Darul Amin. 

KH Muhammad Abrar Dahlan berpesan bahwa Pondok Pesantren Darul Amin bukan milik golongan tertentu, melainkan milik seluruh umat Islam.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun pendidikan Islam memerlukan dukungan bersama, tanpa memandang latar belakang suku maupun kelompok.

" Pesan almarhum tentang Pesantren Darul Amin, Pesantren ini adalah milik semua umat Islam, bukan dimiliki oleh satu golongan atau suku tertentu. Oleh karena itu, diharapkan kepada seluruh umat Islam khususnya di Kabupaten Kotim untuk terus mendukung perjuangan membangun, membesarkan Pondok Pesantren Darul Amin yang kita cintai ini sekalipun beliau telah tiada," tambah Ustadz Rayyan. 

KH Muhammad Abrar Dahlan  juga mengingatkan bahwa setiap perjuangan dalam menegakkan syiar Islam pasti akan menghadapi berbagai cobaan. Namun dengan keikhlasan dan kesabaran, pertolongan Allah akan selalu menyertai.

Kini, lebih dari dua puluh tahun setelah wafatnya, cita-cita besar itu masih terus dijaga. Pondok Pesantren Darul Amin terus berkembang dan menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Kotim.

"Kami hanya meneruskan estafet perjuangan beliau. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan kepada kami untuk terus mengembangkan pesantren ini. Insya Allah ke depan Darul Amin memiliki universitas sebagai bagian dari cita-cita besar yang beliau tinggalkan," pungkas Ustadz Ahmad Rayyan Zuhdi Abrar. (DEWI PATMALASARI)