PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat tidak semua subsektor pertanian mengalami peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026. Di tengah kenaikan NTP secara umum, subsektor hortikultura justru mengalami penurunan terdalam dibandingkan subsektor lainnya.

Pelaksana Tugas Kepala BPS Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami, mengatakan NTP subsektor hortikultura pada Mei 2026 turun sebesar 2,78 persen. Penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya harga sejumlah komoditas hortikultura di tingkat petani.

Menurut Maria, turunnya harga beberapa komoditas sayuran dan tanaman obat menjadi faktor utama yang menekan pendapatan petani hortikultura. Pada saat yang sama, biaya yang harus dibayar petani untuk kebutuhan produksi dan konsumsi rumah tangga masih mengalami peningkatan.

“Kondisi ini menyebabkan daya tukar petani hortikultura melemah dibandingkan bulan sebelumnya karena kenaikan biaya tidak diimbangi oleh peningkatan harga jual hasil pertanian,” ujarnya saat menyampaikan rilis perkembangan NTP Kalimantan Tengah pada Selasa, 2 Juni 2026.

Selain hortikultura, BPS juga mencatat penurunan NTP pada subsektor peternakan dan perikanan. Meski demikian, penurunan pada kedua subsektor tersebut tidak sedalam yang terjadi pada subsektor hortikultura.

Maria menjelaskan, secara keseluruhan NTP Kalimantan Tengah pada Mei 2026 masih menunjukkan tren positif. Hal itu terlihat dari kenaikan NTP provinsi yang mencapai 139,72 atau meningkat 0,21 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

“Meskipun kenaikannya relatif terbatas, NTP Kalimantan Tengah pada Mei 2026 masih menunjukkan adanya perbaikan daya tukar hasil pertanian terhadap barang dan jasa yang dibayar petani,” kata Maria.

Menurutnya, kondisi tersebut menandakan kesejahteraan petani secara umum masih mengalami perbaikan, meskipun terdapat beberapa subsektor yang menghadapi tekanan harga komoditas. (TESTI PRISCILLA/H)