BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Hambatan dari berbagai pihak Barat ternyata tidak mampu meredam laju produk minyak kelapa sawit Indonesia di Eropa, dan terbukti volume ekspor minyak nabati ke Benua Biru itu terus meningkat setiap tahun.

"Di tengah berbagai isu menyangkut sawit di Eropa, ternyata ekspor terus meningkat. Jadi daya saing kita masih kuat di tengah berbagai masalah yang terjadi," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit, Bayu Krisnamurthi, kepada pers di Jakarta, Rabu (4/1/2017).

Bayu optimistis CPO Indonesia masih unggul ketimbang produk minyak nabati lainnya meski Uni Eropa sering membuat kampanye hitam tentang kelapa sawit. Salah satunya adalah wacana penerapan pajak progresif hingga 300% untuk produk sawit di Prancis, yang akhirnya dibatalkan parlemen negara tersebut.

"Indonesia dan Argentina berhasil meyakinkan pengadilan Uni Eropa untuk membatalkan penetapan anti dumping duty EU untuk biodiesel pada 16 September 2016. Kita sudah berhasil membuktikan harga sawit kita bukan dumping, melainkan karena ada daya saing yang tinggi," papar dia.

Selain itu, dalam perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership (IEUCEPA), keberlanjutan kelapa sawit menjadi salah satu bahan pembahasan yang serius. Pasalnya, kedua belah pihak belum sepakat tentang definisi keberlanjutan dalam produk kelapa sawit.

"Meski pasar ekspor terlihat masih berpotensi meningkat, pemerintah dan BPDP Sawit berencana terus melakukan diplomasi di Uni Eropa," ujar Bayu. (NEDELYA RAMADHANI/m)