BORNEONEWS, Palangka Raya - Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia atau HISKI Komisariat Kalimantan Tengah didukung Dana Indonesiana menggelar Lokakarya Produk Alih Wahana Sastra pada Kamis, 4 Juni 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menjadi wadah bagi para penulis dan akademisi di Kalimantan Tengah untuk mempresentasikan hasil transformasi karya sastra ke dalam bentuk baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Ketua HISKI Komisariat Kalimantan Tengah, Alifiah Nurachmana mengatakan lokakarya ini merupakan bagian dari upaya penguatan kreativitas dan produktivitas para penulis daerah dalam mengembangkan karya sastra melalui proses alih wahana. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga sarana pembelajaran langsung melalui masukan dari para pakar sastra nasional.
“Lokakarya ini menjadi momentum penting bagi penulis Kalimantan Tengah untuk menunjukkan hasil kreativitas mereka sekaligus mendapatkan penguatan akademik dari para reviewer yang memiliki kompetensi di bidang sastra dan alih wahana. Harapannya, karya-karya yang dihasilkan semakin berkualitas dan dapat menjangkau pembaca yang lebih luas,” ujar Alifiah dalam agenda kegiatan yang disusun HISKI.
Ia menjelaskan, sebanyak 31 peserta dari berbagai latar belakang akademisi, guru, peneliti, dan pegiat sastra mempresentasikan produk alih wahana yang telah mereka susun. Setiap sesi menampilkan tiga presenter dengan durasi 30 menit. Masing-masing presenter diberikan waktu sekitar empat hingga enam menit untuk memaparkan karya melalui tayangan lima hingga tujuh slide, sedangkan waktu selebihnya digunakan reviewer untuk memberikan tanggapan, kritik, dan saran pengembangan karya.
Alifiah menilai pola tersebut dirancang agar peserta memperoleh umpan balik yang lebih mendalam. Menurutnya, proses review menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas produk alih wahana, terutama bagi para penulis yang mengadaptasi cerita rakyat, sastra klasik, maupun karya sastra lisan ke dalam bentuk cerita pendek, naskah, atau media lainnya.
Sementara itu, Ketua Umum HISKI, Prof Novi Anoegrajekti, turut memberikan sambutan. Kehadiran Novi bersama sejumlah pakar sastra nasional menunjukkan komitmen HISKI dalam mendorong pengembangan kajian sastra yang adaptif terhadap perubahan media dan kebutuhan masyarakat modern.
Menurut Novi, alih wahana merupakan salah satu strategi penting untuk menjaga keberlanjutan karya sastra agar tetap hidup dan dapat diterima oleh generasi baru. Melalui proses transformasi dari satu medium ke medium lain, nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan pesan moral yang terkandung dalam karya sastra dapat terus diwariskan tanpa kehilangan relevansinya.
Lokakarya tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dan reviewer nasional, yakni Dr. M. Yoesoef, M.Hum. dari Universitas Indonesia, Dr. Asep Yudha Wirajaya, M.A. dari Universitas Sebelas Maret, serta Dr. Misrita, M.Hum dan Dr Dr. Imam Qalyubi dari Kalimantan Tengah. Selain memberikan penilaian terhadap karya peserta, para pakar juga membagikan perspektif akademik mengenai praktik alih wahana sastra yang berkembang di Indonesia.
Agenda kegiatan diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan sambutan Ketua HISKI Komisariat Kalimantan Tengah dan Ketua Umum HISKI, kemudian penjelasan teknis lokakarya hasil saduran karya sastra klasik. Selanjutnya peserta mempresentasikan produk alih wahana sastra yang telah disusun berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan panitia hingga penutupan pada sore hari.
Bagi para penulis Kalimantan Tengah, kegiatan ini menjadi kesempatan berharga untuk mempertemukan kreativitas lokal dengan perspektif akademik nasional. Melalui pendampingan para reviewer dan jejaring HISKI, karya-karya yang lahir dari kekayaan budaya daerah diharapkan mampu berkembang menjadi produk sastra yang tidak hanya bernilai ilmiah, tetapi juga memiliki daya jangkau yang lebih luas di tengah masyarakat.(TESTI PRISCILLA/y)









