BORNEONEWS, Sampit – Perkembangan inflasi year on year (y-on-y) di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), periode Mei 2025 hingga Mei 2026 mencapai 4,18 persen. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya tercatat sebesar 3,65 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kotim, Eddy Surahman, mengungkapkan bahwa terdapat lima komoditas utama yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan inflasi tahun ini.
“Dalam inflasi year on year tersebut, lima komoditas utama yang berperan cukup besar kali ini," katanya, Kamis, 4 Juni 2026.
Lebih lanjut ia mengungkapkan, lima komoditas itu adalah emas perhiasan dengan andil 0,69 persen, ikan sebesar 0,29 persen, minyak goreng sebesar 0,24 persen, beras sebesar 0,23 persen, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,23 persen.
Ia menjelaskan bahwa perubahan harga pada komoditas-komoditas tersebut memengaruhi daya beli masyarakat serta biaya hidup secara umum, sehingga menjadi perhatian penting dalam pengelolaan ekonomi daerah.
“Fluktuasi harga emas perhiasan yang cukup tinggi menjadi penyumbang terbesar inflasi, disusul komoditas pokok seperti ikan, minyak goreng, dan beras yang merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Selain itu, bahan bakar rumah tangga juga mengalami kenaikan yang menambah tekanan inflasi,” tambahnya.
Ia mengingatkan perlunya upaya dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, dalam mengendalikan inflasi agar kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.
“Kami berharap pemerintah daerah dan stakeholder terkait dapat melakukan langkah-langkah strategis, seperti pengendalian harga dan peningkatan produksi lokal, demi menekan laju inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi,” tutup Eddy.
Data inflasi ini menjadi dasar evaluasi kebijakan ekonomi dan perencanaan pembangunan Kotawaringin Timur dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan. (DEVIANA/y)









