BORNEONEWS, Palangka Raya – Di tengah kondisi ekonomi yang bergejolak dan daya beli masyarakat yang tertekan, para pelaku usaha dituntut untuk lebih lincah beradaptasi agar bisnis yang dijalankan tetap bertahan dan tumbuh.
Bagi Muhammad Asary, pemilik Along Grup, kunci utama keberhasilan dan tantangan terbesar dalam berbisnis ternyata bukan terletak pada persoalan modal atau persaingan, melainkan pada konsistensi diri pelaku usaha itu sendiri.
Pria yang merintis usahanya sejak akhir 2019 silam ini kini telah membuktikan prinsip tersebut lewat perkembangan usahanya. Kini, Along Grup telah memiliki tujuh gerai yang tersebar luas, meliputi lima titik di Kalimantan Tengah, satu di Kalimantan Selatan, dan satu lagi di Binjai, Sumatera Utara.
Perjalanan menuju pencapaian tersebut tidaklah mudah. Asary mengaku, ia memulai langkahnya saat masih berstatus mahasiswa dan harus menghadapi berbagai rintangan yang datang silih berganti.
Menurut pengalamannya, sesungguhnya peluang usaha selalu terbuka lebar di mana saja. Namun, banyak generasi muda yang gagal melangkah karena terlalu lama memikirkan risiko dan modal hingga akhirnya tidak pernah memulai langkah pertama.
“Peluang usaha itu banyak. Yang sering menjadi kendala bukan peluangnya, tetapi kemauan untuk memulai. Kadang orang terlalu banyak berpikir soal modal dan risiko sampai akhirnya tidak jadi memulai,” ujar Asary, Jumat, 5 Juni 2026
Ia menekankan bahwa keberanian adalah modal awal yang penting. Sebuah usaha sekecil apa pun berpotensi besar berkembang jika dijalankan dengan keseriusan dan konsistensi. Justru di situlah letak ujian terberat seorang pengusaha, yaitu mempertahankan semangat ketika kondisi usaha sedang tidak bersahabat.
“Kalau bicara tantangan, yang paling susah itu sebenarnya menjaga konsistensi. Pemilik usaha harus punya visi yang jelas, karena kalau tujuan hanya untuk bertahan hidup saja, biasanya semangat itu cepat habis,” tambahnya.
Selain ketahanan mental dan konsistensi, Asary juga menilai pemanfaatan media sosial menjadi faktor penentu kemajuan usaha di era sekarang. Platform digital dianggap sangat efektif untuk mempercepat pengenalan produk ke masyarakat luas.
Menurutnya, sebelum memutuskan membeli atau mencoba, konsumen cenderung menilai tampilan visual dan gambaran umum usaha yang ditampilkan di media sosial.
“Media sosial sangat membantu memperkenalkan usaha. Sekarang orang melihat dulu tampilannya seperti apa, tempatnya bagaimana, baru kemudian tertarik mencoba produknya. Ini jauh lebih mudah dan hemat biaya dibanding dulu yang harus pakai brosur atau iklan cetak,” ungkapnya.
Di tengah lonjakan harga bahan baku, kemasan, dan biaya operasional akibat ketidakstabilan ekonomi, Along Grup mengambil kebijakan yang berbeda. Asary memutuskan untuk tidak terburu-buru menaikkan harga jual produk. Langkah ini diambil mengingat beban ekonomi yang juga dirasakan oleh masyarakat luas.
“Harga bahan baku memang naik hampir semua. Tapi kami juga melihat masyarakat sudah cukup terbebani. Jadi selama masih bisa bertahan, kami berusaha mempertahankan harga agar tetap terjangkau,” jelasnya.
Ia menyadari bahwa masyarakat kini lebih selektif membelanjakan uangnya, namun kebutuhan akan hiburan sederhana seperti nongkrong, minum kopi, atau makan bersama teman tetap ada.
Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku usaha kuliner untuk menghadirkan produk berkualitas dengan harga ramah di kantong.
Menghadapi ketidakpastian ekonomi ke depan, Asary mengingatkan pentingnya memiliki rencana cadangan. Pengusaha harus berani mengubah strategi, menyesuaikan produk, atau mengubah target pasar jika kondisi semakin sulit, agar usaha tetap berjalan.
“Kalau ekonomi semakin sulit, kita harus punya rencana kedua. Jangan memaksakan konsep yang sama. Sesuaikan dengan kemampuan pasar supaya usaha tetap berjalan,” tegasnya.
Khusus bagi anak muda yang baru ingin terjun ke dunia usaha, Asary berpesan untuk tidak terburu-buru mendirikan bisnis berskala besar. Ia menyarankan memulai dari hal kecil dan berisiko rendah, misalnya menjadi reseller atau afiliator, sebagai sarana belajar sebelum melangkah lebih jauh.
“Kalau belum punya modal besar, jangan memaksakan buka usaha yang butuh biaya tinggi. Mulailah dari yang minim risiko dulu. Yang penting belajar dan berani memulai,” sarannya.
Di balik kesuksesan yang diraihnya, Asary juga tak luput dari ujian berupa tudingan dan fitnah seiring membesarnya usahanya. Namun, ia memilih menjadikan hal itu sebagai bagian dari proses dan tetap fokus bekerja tanpa terlalu reaktif.
Baginya, perjalanan bisnis bukan sekadar soal keuntungan materi, melainkan tentang kemampuan bertahan menghadapi tekanan, menjaga konsistensi, dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
"Prinsip inilah yang dipegang teguh hingga mampu mengubah usaha kecil milik mahasiswa menjadi jaringan bisnis yang kokoh dan tersebar di beberapa provinsi," pungkasnya. (PATHUR/r)









