BORNEONEWS, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melemah tajam pada penutupan perdagangan sesi I di Bursa Efek Indonesia, Jumat, 5 Juni 2026.
IHSG tercatat turun 147,62 poin atau 2,53 persen ke posisi 5.692,15. Pelemahan ini dinilai masih dipengaruhi tekanan penguatan dolar Amerika Serikat, tingginya suku bunga global, serta derasnya arus keluar dana asing atau foreign outflow.
Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, mengatakan tekanan terhadap IHSG juga dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik. Kondisi itu membuat pelaku pasar cenderung mengambil posisi defensif.
Menurutnya, pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari berturut-turut menunjukkan tekanan jual belum mereda, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang banyak menjadi incaran investor asing.
“Di tengah likuiditas yang menurun dan sentimen yang masih negatif, setiap rebound cenderung dimanfaatkan untuk melakukan profit taking atau pengurangan risiko,” ujar Reydi di Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026.
Reydi menilai investor asing masih cenderung mengurangi eksposur terhadap pasar saham Indonesia. Fokus investor saat ini lebih banyak tertuju pada stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan ekonomi, serta peluang investasi di pasar lain yang dinilai lebih menarik dari sisi risiko dan imbal hasil.
Dalam jangka pendek, Reydi memproyeksikan IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan melemah. Kondisi itu dapat berlanjut selama tekanan terhadap rupiah dan arus keluar dana asing belum mereda.
Meski demikian, peluang technical rebound tetap terbuka apabila rupiah mulai stabil dan tekanan jual asing berkurang.
Menurut Reydi, sejumlah saham unggulan saat ini sudah berada pada valuasi yang semakin menarik atau undervalued, sehingga berpeluang menjadi perhatian investor saat sentimen pasar mulai membaik.
Berdasarkan data perdagangan sesi I di BEI, frekuensi transaksi saham tercatat sebanyak 1.322.798 kali. Jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 25,25 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp21,08 triliun.
Sebanyak 111 saham tercatat menguat, 588 saham melemah, dan 109 saham tidak bergerak nilainya.
ANTARA









