BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Senat Universitas Palangka Raya, Profesor Petrus Poerwadi, memberikan apresiasi kepada mahasiswa PBSI FKIP UPR yang memilih mengangkat tradisi lisan Dayak dalam pementasan drama Malawen.
Menurutnya, pilihan tersebut menjadi langkah yang patut diapresiasi karena selama ini mahasiswa lebih sering menggunakan naskah drama yang telah tersedia dibanding mengadaptasi tradisi lisan menjadi karya pertunjukan.
"Saya melihat ini sangat bagus. Dulu jarang mahasiswa mengangkat tradisi lisan, biasanya menggunakan naskah drama yang sudah jadi. Ini luar biasa karena mahasiswa berani mengangkat tradisi lisan menjadi sebuah drama," kata Prof Petrus saat membuka dengan resmi kegiatan Pementasan Drama Malawen yang diselenggarakan di Taman Budaya Palangka Raya pada Sabtu malam, 6 Juni 2026.
Prof Petrus menilai keberanian mahasiswa menggali kekayaan budaya daerah menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus memperkaya karya seni pertunjukan di lingkungan kampus.
Meski demikian, ia mengingatkan agar pementasan tidak hanya berfokus pada kemampuan akting para pemain, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cerita.
"Yang perlu diperhatikan adalah nilai yang ingin ditonjolkan. Jangan hanya memperhatikan nilai aktingnya, tetapi nilai apa yang akan disampaikan sehingga nanti dapat ditarik kesimpulan mengenai nilai budaya dari tradisi lisan tersebut," tegasnya.
Ia berharap pementasan berbasis tradisi lokal terus dikembangkan sebagai media edukasi sekaligus pelestarian budaya daerah. (TESTI PRISCILLA/y)









