BALIKPAPAN –

BORNEONEWS, Balikpapan – Bank Indonesia Perwakilan Balikpapan mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mewaspadai potensi kenaikan inflasi, terutama pada kelompok bahan pangan bergejolak atau volatile food saat musim kemarau.

Kepala Kantor Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan musim kemarau berisiko menekan produksi pangan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pasokan dan mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas di pasar.

"Risiko inflasi harus diwaspadai, musim kemarau berpotensi menekan produksi pangan," ujar Robi di Balikpapan, Minggu, 7 Juni 2026.

Menurut Robi, risiko tekanan harga juga dapat dipengaruhi meningkatnya aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara atau IKN pada semester II 2026. Peningkatan aktivitas tersebut diperkirakan ikut mendorong permintaan komoditas pangan.

Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendali Inflasi Daerah atau TPID di wilayah kerja BI Balikpapan rutin melaksanakan berbagai langkah pengendalian. Wilayah tersebut meliputi Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara, dan Kabupaten Paser.

Upaya yang dilakukan antara lain gerakan pangan murah, pasar murah, operasi pasar, serta operasi pasar untuk bahan bakar rumah tangga.

Robi menjelaskan, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik, inflasi Kota Balikpapan pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,27 persen secara bulanan atau month to month.

Penyumbang inflasi tertinggi di Balikpapan berasal dari kenaikan harga tiket pesawat, solar, pelumas kendaraan, roti manis, dan beras.

Khusus beras dan roti manis, kenaikan harga dipengaruhi meningkatnya biaya kemasan dan logistik. Selain itu, pasokan beras premium juga disebut masih terbatas.

Meski begitu, sejumlah komoditas di Balikpapan mengalami penurunan harga. Di antaranya bahan bakar rumah tangga, kangkung, emas perhiasan, daging ayam ras, dan tomat.

Penurunan harga tersebut didukung pelaksanaan operasi pasar, meningkatnya pasokan lokal, serta penurunan harga emas global.

Sementara itu, Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat deflasi 0,06 persen secara bulanan. Robi menyebut deflasi tersebut dipengaruhi meningkatnya pasokan pangan.

"Kabupaten Penajam Paser Utara mengalami deflasi 0,06 persen karena pasokan pangan yang meningkat," jelasnya.

Komoditas yang mengalami penurunan harga di Penajam Paser Utara antara lain daging ayam ras, cabai rawit, tomat, ikan tongkol, dan udang basah.

Penurunan itu terjadi karena produksi lokal meningkat dan pasokan dari daerah panen di Jawa serta Sulawesi masuk ke pasar Penajam Paser Utara.

Namun, sejumlah komoditas masih memberi tekanan inflasi di daerah tersebut. Di antaranya beras, buncis, solar, sawi hijau, dan sigaret kretek mesin.

Harga beras dan rokok naik akibat peningkatan biaya logistik dan kemasan. Sementara harga solar terdorong penyesuaian harga bahan bakar minyak non-subsidi.

Secara tahunan, inflasi Kota Balikpapan tercatat sebesar 2,75 persen year on year. Adapun inflasi Kabupaten Penajam Paser Utara sebesar 2,33 persen year on year.

Angka tersebut masih berada di bawah inflasi nasional sebesar 3,08 persen year on year dan inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 3,04 persen year on year.

Robi menegaskan, pengendalian inflasi perlu terus diperkuat melalui koordinasi lintas daerah, pengamanan pasokan, serta keterjangkauan harga, terutama menjelang potensi tekanan akibat musim kemarau dan meningkatnya kebutuhan pangan di kawasan sekitar IKN.

ANTARA