JAKARTA –

BORNEONEWS, Istanbul – Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam kunjungan kenegaraan ke Pyongyang.

Kunjungan dua hari yang dimulai Senin itu menjadi lawatan pertama Xi ke Korea Utara dalam tujuh tahun terakhir. Agenda tersebut berlangsung atas undangan Kim Jong Un.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan kunjungan itu diarahkan untuk memperkuat hubungan kedua negara sekaligus membahas isu-isu yang menjadi perhatian bersama.

Kunjungan tersebut juga dinilai penting karena berlangsung di tengah perubahan dinamika kawasan, termasuk semakin eratnya hubungan Korea Utara dengan Rusia.

Xi terakhir kali berkunjung ke Korea Utara pada 2019. Saat itu, ia menjadi presiden China pertama dalam 14 tahun yang melakukan lawatan ke negara tersebut.

Sebelumnya, Xi juga pernah mengunjungi Pyongyang pada 2008 ketika masih menjabat sebagai wakil presiden China. Dalam kunjungan itu, ia bertemu dengan Kim Jong Il, ayah Kim Jong Un.

Xi dan Kim terakhir bertemu pada September 2025 saat Kim menghadiri parade militer di Beijing untuk memperingati 80 tahun Hari Kemenangan China.

Kunjungan terbaru Xi ke Pyongyang berlangsung ketika Korea Utara terus mempertegas sikapnya terkait program nuklir. Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un yang berpengaruh, menyatakan status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir tidak dapat diubah dan tidak dapat dinegosiasikan.

Pernyataan itu muncul setelah Washington menyebut Xi dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memiliki tujuan bersama untuk denuklirisasi Korea Utara.

Beijing belum memerinci isi pembahasan tersebut, tetapi menyatakan China terus mendorong penyelesaian politik atas isu nuklir di Semenanjung Korea.

Di sisi lain, Kim Jong Un sebelumnya juga menegaskan komitmen untuk memperluas kemampuan nuklir Korea Utara secara signifikan. Sikap itu menegaskan bahwa isu denuklirisasi masih menjadi salah satu hambatan utama dalam diplomasi kawasan.

Kunjungan Xi juga memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan peran China sebagai penyeimbang atau mediator dalam ketegangan antara Korea Utara dan Amerika Serikat.

China selama ini menjadi mitra ekonomi terpenting bagi Korea Utara. Nilai perdagangan kedua negara meningkat menjadi 2,79 miliar dolar AS pada tahun lalu, mendekati level sebelum pandemi.

Hubungan lintas batas kedua negara juga mulai pulih. Layanan kereta penumpang China-Korea Utara kembali beroperasi pada Maret setelah terhenti sekitar enam tahun akibat pandemi. Penerbangan langsung Air China antara kedua ibu kota juga telah dibuka kembali.

Tahun ini juga menandai 65 tahun Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Timbal Balik China-Korea Utara. Perjanjian tersebut merupakan satu-satunya pakta pertahanan yang dimiliki China dengan negara lain.

Ekonomi Korea Utara diperkirakan tumbuh 3,7 persen pada 2024, menjadi ekspansi terbesar dalam delapan tahun terakhir. Pertumbuhan itu didorong peningkatan ekspor serta aktivitas di sektor konstruksi dan manufaktur.

Dengan latar tersebut, pertemuan Xi dan Kim diperkirakan tidak hanya membahas hubungan bilateral, tetapi juga arah kerja sama ekonomi, stabilitas kawasan, dan posisi kedua negara dalam dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Sumber: Anadolu/ANTARA