BORNEONEWS, Sampit – Komisi II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) menggelar rapat dengar pendapat (RDP) terkait anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang sempat dikeluhkan para petani beberapa waktu lalu.
"Kami mendapat keluhan dari petani karena harga buah sawit sempat turun. Oleh karena itu, kami menggelar RDP untuk menyikapi surat yang disampaikan para petani tersebut," kata Ketua Komisi II DPRD Kotim Akhyannor, Senin, 8 Juni 2026.
Ia menjelaskan, sebelum RDP dilaksanakan, harga TBS sawit di Kalimantan Tengah sudah mengalami kenaikan dan mulai kembali berada pada level yang diharapkan petani. Meski demikian, pembahasan tetap dilakukan sebagai bentuk perhatian DPRD terhadap aspirasi masyarakat.
"Alhamdulillah sebelum rapat ini dilaksanakan, harga sawit sudah kembali berada di atas kategori yang diinginkan petani. Namun tidak ada salahnya RDP tetap dilaksanakan karena harga tersebut telah ditetapkan oleh Disbun Provinsi Kalimantan Tengah," ujarnya.
Dalam RDP tersebut, DPRD Kotim mengundang 57 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di wilayah Kotim. Namun dari jumlah tersebut, hanya 28 perusahaan yang hadir mengikuti RDP.
Akhyannor berharap hasil pembahasan tersebut dapat menjadi kesepahaman bersama antara pemerintah, perusahaan, dan petani agar harga sawit tetap stabil serta memberikan keuntungan yang adil bagi seluruh pihak.
"Mudah-mudahan ke depan petani sawit di Kotim mendapatkan yang terbaik. Mereka sebelumnya juga menghadapi beban karena harga pupuk yang mahal, sehingga ketika harga sawit turun tentu sangat dirasakan dampaknya," katanya.
Menurutnya, kebijakan pemerintah pusat yang menerapkan sistem ekspor satu pintu melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bertujuan menata tata niaga komoditas strategis agar lebih menguntungkan negara dan masyarakat.
Ia menilai langkah yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto tersebut merupakan upaya memperbaiki sistem perdagangan agar tidak terjadi kebocoran yang merugikan negara maupun petani.
"Ini yang ingin diluruskan oleh Presiden. Jangan hanya melihat sisi negatifnya. Tujuannya agar tidak merugikan perusahaan maupun masyarakat, sehingga kepentingan petani dan dunia usaha bisa berjalan selaras," tegasnya.
Akhyannor optimistis harga sawit akan terus membaik dan kembali stabil dalam waktu dekat. Kondisi tersebut, menurutnya, mulai memberikan harapan baru bagi para petani sawit di Kotim yang sebelumnya mengkhawatirkan anjloknya harga jual hasil panen mereka.
"Alhamdulillah sekarang masyarakat sudah mulai merasa lega. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak, baik perusahaan maupun pembeli. Mudah-mudahan ini menjadi angin segar bagi perekonomian masyarakat Kotim secara keseluruhan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









