BORNEONEWS, Sampit – Sekolah Nasional Terintegrasi atau SNT adalah konsep kawasan pendidikan modern yang dirancang untuk menyediakan layanan pendidikan berjenjang dalam satu sistem terpadu.
Model sekolah ini mencakup jenjang pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA atau SMK. Seluruh jenjang tersebut berada dalam satu tata kelola dan sistem pembelajaran yang berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi salah satu daerah yang mulai menyiapkan langkah awal pengusulan pembangunan SNT kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Kepala Dinas Pendidikan Kotim, Yolanda Lonita Fenisia mengatakan, pihaknya telah menyiapkan lahan sekitar 20 hektare sebagai salah satu syarat pengusulan program tersebut.
"Untuk pengusulan SNT luas lahan yang diminta itu 20 hektare, jadi sekitar itulah yang kami siapkan. Lokasinya di kawasan Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang," kata Yolanda di Sampit, Senin, 8 Juni 2026.
Yolanda menjelaskan, SNT merupakan program yang disiapkan pemerintah pusat untuk mendorong pemerataan mutu pendidikan nasional. Melalui konsep ini, peserta didik diharapkan dapat memperoleh layanan pendidikan yang lebih terarah, berkesinambungan, dan inklusif.
Meski memiliki kemiripan dengan Sekolah Rakyat atau SR, SNT memiliki perbedaan mendasar. Perbedaan itu terletak pada kementerian pengampu, sasaran peserta didik, hingga ketentuan teknis pelaksanaannya.
SNT merupakan program dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Sementara Sekolah Rakyat merupakan program dari Kementerian Sosial.
Dari sisi sasaran, Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak dari keluarga miskin ekstrem dan miskin. Sedangkan SNT lebih terbuka bagi anak-anak berprestasi dari berbagai kelompok masyarakat secara inklusif, termasuk keluarga desil menengah dan kelompok rentan.
“SNT di dalamnya ada SD, SMP sampai SMA, memang hampir mirip SR, tapi yang membedakan itu sasarannya. Kalau SR itu kan desil 1 dan desil 2, kalau SNT itu terbuka bagi peserta didik dari keluarga desil menengah dan kelompok rentan,” katanya.
Pemilihan kawasan Jalan Sawit Raya sebagai lokasi usulan pembangunan SNT didasarkan pada sejumlah pertimbangan. Salah satunya berkaitan dengan kepadatan penduduk dan terbatasnya fasilitas pendidikan tingkat menengah di wilayah tersebut.
Saat ini, kawasan itu hanya memiliki satu sekolah menengah pertama, yakni SMP Negeri 8. Sekolah tersebut harus menampung lulusan dari sejumlah sekolah dasar di sekitarnya.
Pemerintah daerah menilai pembangunan SNT di kawasan tersebut dapat membantu memperluas akses pendidikan, terutama bagi masyarakat yang berada dalam radius sekitar delapan hingga sepuluh kilometer dari lokasi permukiman.
Keberadaan SNT diharapkan mampu mengurai kepadatan siswa di sekolah yang sudah ada, sekaligus memberi alternatif layanan pendidikan yang lebih merata bagi masyarakat.
Yolanda menambahkan, proses pengusulan program strategis tersebut masih berjalan. Disdik Kotim masih menunggu arahan dan informasi lanjutan dari kementerian terkait.
Ia menyebut, Direktorat SMA Kemendikdasmen juga telah menurunkan tim untuk melakukan verifikasi dan validasi lapangan beberapa minggu lalu.
Pemkab Kotim berharap usulan pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi dapat mendapat persetujuan pemerintah pusat, sehingga mampu memperkuat pemerataan akses dan mutu pendidikan di daerah.









