BORNEONEWS, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia ditutup melemah tajam pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026.
IHSG turun 252,63 poin atau 4,52 persen ke posisi 5.342,14. Sementara indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan ikut melemah 30,67 poin atau 5,50 persen ke level 527,08.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim mengatakan, tekanan jual di pasar saham masih berlanjut akibat kombinasi sentimen negatif dari dalam negeri dan global.
"Tekanan jual berlanjut akibat faktor negatif dari global dan domestik," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan, dari sisi domestik, pasar masih dibayangi menurunnya kepercayaan investor. Sementara dari global, tekanan datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel yang saling melakukan serangan.
Kondisi tersebut dinilai mengancam gencatan senjata yang rapuh dan memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global.
Ratna menyebut, ketegangan geopolitik itu turut mendorong kenaikan harga minyak mentah lebih dari empat persen. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan risiko inflasi berkelanjutan serta memperlebar defisit APBN 2026.
Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik juga membuat pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed akan mempertahankan sikap hawkish sepanjang sisa tahun ini.
Sejalan dengan tekanan tersebut, bursa saham kawasan Asia juga melemah mengikuti pergerakan Wall Street. Pelemahan dipengaruhi kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah serta koreksi saham sektor teknologi.
"Potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal. Selanjutnya diperkirakan IHSG berpotensi akan menguji level 5.100," ujar Ratna.
Sejak pembukaan perdagangan, IHSG langsung bergerak di zona merah dan bertahan melemah hingga penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, tekanan jual tetap berlanjut hingga akhir perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh atau 11 sektor saham ditutup melemah. Sektor infrastruktur mencatat pelemahan terdalam sebesar 6,47 persen.
Pelemahan berikutnya terjadi pada sektor industri sebesar 6,00 persen, serta sektor transportasi dan logistik yang turun 5,43 persen.
Adapun saham yang mencatat penguatan terbesar yakni GRIA, FORU, ASPR, TPIA, dan PSDN. Sementara saham yang mengalami pelemahan terbesar antara lain ENAK, PTSN, GPSO, TNCA, dan ANJT.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.215.560 kali transaksi. Jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 32,52 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp21,74 triliun.
Sebanyak 78 saham menguat, 661 saham melemah, dan 771 saham tidak bergerak.
Bursa saham regional Asia juga kompak melemah. Indeks Nikkei turun 2.492,12 poin atau 3,74 persen ke 64.096,00. Indeks Shanghai melemah 68,40 poin atau 1,70 persen ke 3.959,34.
Sementara itu, indeks Hang Seng melemah 304,89 poin atau 1,22 persen ke 24.657,06, dan indeks Straits Times turun 83,49 poin atau 1,65 persen ke 4.963,67.
ANTARA









