BORNEONEWS, Jakarta – Energy Academy Indonesia atau ECADIN menilai upaya mitigasi emisi metana di sektor minyak dan gas atau migas relatif lebih cepat dan mudah dilakukan dibandingkan sektor lainnya.
COO ECADIN, Candra Sutama, mengatakan sektor energi, khususnya migas, menjadi salah satu fokus penting dalam pengurangan emisi metana karena memiliki sistem kerja yang lebih teknis dan terukur.
“Mengapa kita fokusnya ke sektor energi, terutama di minyak dan gas? Karena yang pertama, lebih mudah untuk mengontrol atau mengurangi emisi di sektor minyak dan gas,” ujar Candra dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.
Menurut Candra, sektor migas memiliki metode, peralatan, serta pengetahuan teknis yang memadai untuk mendeteksi dan menurunkan emisi dari kegiatan operasionalnya.
Selain itu, jumlah operator migas juga relatif terbatas. Dengan kondisi tersebut, penerapan metode pengurangan emisi dapat dilakukan lebih cepat apabila perusahaan migas menerapkannya secara menyeluruh di lingkungan operasional masing-masing.
Ia menjelaskan, kerja sama dengan satu perusahaan migas dapat berdampak luas karena metode pengendalian emisi yang diterapkan bisa digunakan di seluruh lini perusahaan tersebut.
Karena itu, ECADIN menilai pengurangan emisi metana di sektor migas lebih mudah dikontrol dan memiliki peluang percepatan yang lebih besar.
Candra juga menyebut pengurangan emisi metana di sektor migas tidak selalu menimbulkan biaya tambahan bagi industri. Sebaliknya, langkah tersebut dapat memberikan nilai ekonomi.
Hal ini karena gas metana merupakan komponen utama gas alam yang dapat dimanfaatkan dan dijual kembali. Dengan demikian, pengendalian kebocoran metana tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat memberikan tambahan pendapatan bagi pelaku industri.
“Sehingga ada dua sisi, yang satu melindungi bumi, melindungi manusia, yang kedua menghasilkan uang untuk mereka sendiri,” kata Candra.
Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang tidak berwarna dan tidak berbau. Karena karakter tersebut, kebocoran metana sulit dideteksi secara kasatmata tanpa bantuan teknologi atau alat khusus.
Gas ini memiliki masa tinggal yang relatif singkat di atmosfer, namun dampaknya terhadap pemanasan global sangat kuat, terutama dalam periode awal setelah dilepaskan.
Metana disebut berkontribusi sekitar 30 persen terhadap pemanasan global. Dalam 20 tahun pertama, efek pemanasan metana bahkan disebut sekitar 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.
Di Indonesia, emisi metana berasal dari sejumlah sektor. Di antaranya sektor pertanian seperti peternakan dan sawah, sektor energi seperti batu bara serta minyak dan gas, serta sektor limbah seperti sampah makanan.
Melalui penguatan mitigasi di sektor migas, ECADIN berharap upaya pengurangan emisi metana dapat memberikan dampak nyata bagi perlindungan lingkungan sekaligus mendukung efisiensi industri energi nasional.
ANTARA









