BORNEONEWS, Buntok - Desa Bundar merupakan satu-satunya desa yang menjadi pusat pendidikan dan perekonomian di Kecamatan Dusun Utara pada era 1960 hingga 2001.

Selain itu, sejak 1960 hingga 2001, hanya Desa Bundar yang memiliki pasar mingguan di Kematan Dusun Utara, yakni setiap Selasa dan Rabu. Tak hanya itu, Desa Bundar juga menjadi salah satu sentra perdagangan getah karet.

Bahkan pada 1970, Desa Bundar telah memiliki tiga sekolah dasar negeri dan satu SMP swasta. Sekolah tersebut yakni SDN I Bundar, SDN II Bundar II, dan SD Inpres.

Karena hanya Desa Bundar yang memiliki pasar desa, tempat jual-beli getah karet, dan sekolah, warga desa lainnya seperti Hingan, Maruga, Gunung Rantau, Tamparak Layung, Rampa Mea, Panarukan, Hulu Tampang, Reong, dan Mantarem selalu berdatangan ke Desa Bundar.

“Jadi banyak anak-anak yang bersekolah serta warga berbelanja dan menjaul hasil perkebunan mereka ke Desa Bundar,” kata tokoh masyarakat Desa Bundar Siter Ate (70 tahun) kepada Borneonews, Kamis (5/1/2017).

Ia menceritakan, seiring berjalannya waktu, SMP swasta Bundar naik statusnya menjadi SMP Negeri pada 1975. Bahkan, pada 1984 dibangun SMA swasta Tanjung Pinang Bundar.

Dengan didirikan SMA swasta itu, ibu kota Kecamatan Dusun Utara pun kalah dari segi pendidikan. Hal itu lantaran hanya Desa Bundar yang memiliki SMA.

“Desa Bundar pun diperhatikan oleh pemerintah kabupaten dengan berbagai fasilitas dibangun, mulai dari PDAM, PLTD siang malam, jaringan telepon, bahkan SMA-nya sudah negeri,” tutur dia.

Namun, katanya, semua kejayaan itu ternyata belum mampu mendorong pemerintah untuk menjadikan Desa Bundar berdiri di kecamatan sendiri. (URIUTU DJAPER/B-3)