BORNEONEWS, Palangka Raya – Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya menanggapi tingginya jumlah kasus Tuberkulosis (TBC) yang ditemukan sepanjang 2025. Berdasarkan data yang ada, Kota Palangka Raya mencatat 1.101 kasus TBC, tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah.
Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini menilai tingginya angka temuan kasus tidak selalu menjadi indikator buruk. Sebaliknya, hal tersebut menunjukkan bahwa upaya pelacakan dan penemuan kasus yang dilakukan pemerintah dan tenaga kesehatan berjalan dengan baik.
"Kalau pasien TBC banyak ditemukan justru bagus, karena mereka bisa segera mendapatkan pengobatan. Yang berbahaya adalah ketika penderita tidak ditemukan, sehingga tetap menularkan penyakit kepada orang lain di lingkungan sekitarnya," ujarnya, Rabu 10 Juni 2026.
Menurut Zaini, salah satu fokus utama pemerintah saat ini adalah memperkuat deteksi dini dan pelacakan kasus secara aktif melalui puskesmas, kader kesehatan, serta program Kelurahan Siaga TBC.
Ia menjelaskan bahwa semakin cepat penderita ditemukan, semakin cepat pula proses pengobatan dapat dilakukan sehingga risiko penularan dapat ditekan. Karena itu masyarakat diminta tidak takut memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC.
"Kami ingin menemukan sebanyak mungkin kasus yang ada di masyarakat agar seluruh pasien bisa segera menjalani pengobatan sampai sembuh dan tidak menjadi sumber penularan baru," katanya.
Pemko Palangka Raya juga terus melakukan edukasi untuk menghilangkan stigma negatif terhadap penderita TBC. Menurutnya, penyakit tersebut dapat disembuhkan apabila pasien disiplin menjalani pengobatan sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
Melalui penguatan pelacakan kasus, pengobatan, dan edukasi masyarakat, pemerintah optimistis angka penularan TBC dapat ditekan sekaligus mendukung target eliminasi TBC nasional. (MARINI)









