BORNEONEWS, Sampit – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (8Juni 2026) menyentuh angka Rp18.064 per dolar. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat akan potensi kenaikan harga kebutuhan pokok, khususnya beras dan minyak goreng.
Namun, harga beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta minyak goreng rakyat Minyakita di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih tetap stabil hingga saat ini dan belum mengalami perubahan.
Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Kotim, Muhammad Azwar Fuad, menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah tidak langsung memengaruhi harga beras SPHP maupun minyak goreng Minyakita karena kedua komoditas tersebut berada dalam pengawasan dan kebijakan pemerintah.
“Belum naik. Hal ini disebabkan karena program tersebut merupakan intervensi pemerintah dan disubsidi sehingga harga tetap dijaga,” ujar Azwar Fuad, Kamis, 11 Juni 2026.
Ia menambahkan bahwa sampai saat ini belum ada informasi atau arahan dari pemerintah terkait rencana penyesuaian harga kedua komoditas tersebut.
“Sementara kami belum ada rencana menaikkan harga. Harga beras dan minyak di Bulog masih sama,” jelasnya.
Saat ini, Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium berada di angka Rp15.400 per kilogram, sementara Minyakita dipatok HET Rp15.700 per liter. Untuk beras SPHP, masyarakat dapat membelinya dengan harga Rp60.000 per karung ukuran 5 kilogram atau setara Rp12.000 per kilogram.
Azwar menegaskan Bulog hanya menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah dan tidak memiliki kewenangan mengubah harga jual.
“Sampai dengan hari ini kami belum mendengar pemerintah akan menaikkan harga HET beras dan minyak. Insya Allah masih sama harganya,” ucapnya.
“Kalau dari Bulog sendiri, kami tidak punya kewenangan untuk menaikkan harga. Semua ada di pemerintah kewenangannya,” tambahnya. (DEVIANA/H)









