BORNEONEWS, Tamiang Layang – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kabupaten Barito Timur terus memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat melalui Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS).
Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan pembuatan Jagung Susu Keju (Jasuke) dan pelatihan Sistem Informasi Manajemen Teknologi Informasi dan Komunikasi (SIM-TIK) yang digelar di Desa Bamban, Kecamatan Benua Lima, Kamis, 11 Juni 2026.
Kegiatan ini melibatkan anggota Tim Penggerak PKK serta pengelola perpustakaan desa dari enam desa di Kecamatan Benua Lima. Pelatihan dirancang untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan usaha produktif berbasis potensi lokal sekaligus memperkuat kapasitas pengelolaan perpustakaan desa melalui pemanfaatan teknologi informasi.
Pada pelatihan Jasuke, peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik pengolahan jagung menjadi produk makanan bernilai tambah yang memiliki peluang pasar cukup menjanjikan.
Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi modal bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan, untuk mengembangkan usaha rumahan dan memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tingkat desa.
Sementara itu, pelatihan SIM-TIK difokuskan pada peningkatan kemampuan pengelola perpustakaan desa dalam mengelola data, menyusun laporan, serta memberikan layanan informasi berbasis digital.
Melalui pemanfaatan teknologi informasi, perpustakaan desa diharapkan mampu menghadirkan layanan yang lebih efektif, modern, dan akuntabel kepada masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispursip Barito Timur, Ari Panan P Lelu, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Melalui Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, kami ingin membuktikan bahwa perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat," ujarnya.
"Pelatihan Jasuke ini membuka peluang usaha baru bagi warga, sedangkan pelatihan SIM-TIK memperkuat kemampuan pengelola perpustakaan dalam memberikan layanan berbasis teknologi informasi,” lanjut Ari Panan.
Menurutnya, peningkatan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup penguasaan keterampilan hidup dan literasi digital yang dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pihaknya terus mendorong berbagai program yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat di tingkat desa.
“Harapan kami, peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh untuk meningkatkan pendapatan keluarga, mengembangkan UMKM desa, serta memperkuat kualitas layanan perpustakaan. Jika perpustakaan mampu menjadi pusat informasi, pelatihan, dan pemberdayaan, maka manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Ari Panan menambahkan, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, TP-PKK, dan pengelola perpustakaan desa. Sinergi yang terbangun diharapkan terus berlanjut guna mewujudkan masyarakat Barito Timur yang semakin cerdas, kreatif, inovatif, mandiri dan sejahtera.
Melalui kegiatan ini, Dispursip Barito Timur menegaskan peran strategis perpustakaan sebagai agen perubahan sosial yang tidak hanya meningkatkan budaya literasi, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekonomi masyarakat dan percepatan transformasi digital hingga ke wilayah pedesaan. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)









