PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau – Musim pancaroba yang ditandai dengan cuaca tidak menentu berdampak pada meningkatnya risiko gangguan kesehatan pada anak. D

okter Spesialis Anak RSUD Pulang Pisau, dr Franky Luhulima, mengungkapkan terdapat tiga penyakit yang paling sering menyerang anak selama periode tersebut, yakni diare, demam yang belum diketahui penyebabnya, dan radang tenggorokan.

Menurut dr Franky, ketiga penyakit tersebut saat ini mendominasi kunjungan pasien anak ke rumah sakit dan diduga berkaitan erat dengan perubahan cuaca yang terjadi.

“Yang paling sering kami temui adalah diare, kemudian demam yang tidak jelas penyebabnya, dan radang tenggorokan pada anak-anak. Saat ini kasus-kasus tersebut memang sedang banyak,” katanya, Kamis, 11 Juni 2026.

Ia menjelaskan, sepanjang Januari hingga Mei 2026, tiga penyakit tersebut menjadi keluhan terbanyak yang ditangani di layanan kesehatan anak RSUD Pulang Pisau.

Meski sebagian besar kasus tidak berkembang menjadi penyakit serius, dr Franky mengingatkan bahwa keterlambatan penanganan dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya.

“Ada beberapa pasien yang datang sudah mengalami kejang berulang, baik kejang demam maupun kejang akibat infeksi di otak. Namun sumber awalnya hampir semuanya berasal dari demam atau infeksi yang tidak tertangani dengan baik atau terlambat dibawa ke rumah sakit,” ujar dr. Frengky. 

Untuk mencegah penyakit selama musim pancaroba, ia mengimbau para orang tua agar memperhatikan kebersihan anak, terutama membiasakan cuci tangan sebelum makan dan setelah beraktivitas.

Selain itu, anak juga perlu mendapatkan asupan makanan bergizi dan mengurangi konsumsi jajanan yang berisiko memicu gangguan kesehatan seperti diare maupun radang tenggorokan.

“Kalau perlu bisa ditambah multivitamin untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak,” tambahnya.

Terkait penanganan awal saat anak mengalami demam, dr Franky menegaskan orang tua tidak boleh sembarangan memberikan obat. Jika demam tidak membaik setelah 24 jam meski sudah diberikan penanganan awal di rumah, anak sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

“Kalau sudah masuk hari kedua dan demam belum membaik, sebaiknya langsung diperiksakan ke fasilitas kesehatan. Jika puskesmas atau pustu tidak mampu menangani, segera dirujuk ke rumah sakit atau dokter,” katanya.

Ia menambahkan, pemberian obat penurun panas seperti paracetamol diperbolehkan sebagai pertolongan pertama, namun dosisnya harus disesuaikan dengan berat badan anak.

“Kalau dosisnya kurang, tidak efektif karena demam cepat naik lagi. Kalau berlebihan tentu berisiko overdosis. Jadi orang tua harus benar-benar memperhatikan dosis yang tepat,” tegasnya.

Dr Franky berharap masyarakat semakin memahami pentingnya penanganan dini terhadap gejala penyakit pada anak agar kondisi yang awalnya ringan tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius. ( RETHA)