JAKARTA –

BORNEONEWS, Moskow - China dilaporkan membatalkan dua agenda pertemuan tingkat tinggi dengan perwakilan Uni Eropa yang semula dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026.

Pembatalan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Beijing dan Brussel. Informasi itu dilaporkan The Financial Times pada Kamis, 11 Juni 2026, dengan mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut.

Dalam laporan itu disebutkan, salah satu agenda yang dibatalkan merupakan dialog tingkat menteri yang membahas isu digital. Sementara pertemuan lainnya dijadwalkan melibatkan Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Politik pada Dinas Aksi Eksternal Uni Eropa, Olof Skoog.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai alasan China membatalkan dua pertemuan tersebut. Namun, keputusan itu muncul ketika hubungan perdagangan antara China dan Uni Eropa terus mengalami tekanan.

Sebelumnya, pada 7 Juni 2026, Ketua Kelompok Partai Rakyat Eropa di Parlemen Eropa, Manfred Weber, mendorong Uni Eropa untuk memperketat kebijakan perdagangan terhadap China. Ia menilai, tanpa langkah tegas, Beijing berpotensi melemahkan sektor industri Eropa.

Pada Mei 2026, Politico juga melaporkan bahwa Komisi Eropa telah menyiapkan paket langkah perlindungan perdagangan. Kebijakan tersebut disebut bertujuan menghadapi derasnya masuk barang-barang murah asal China ke pasar Eropa.

Selain itu, The Financial Times melaporkan Komisaris Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, tengah mengkaji kemungkinan penerapan tarif terhadap sejumlah produk asal China, termasuk produk kimia dan peralatan.

Langkah tersebut dinilai sebagai upaya untuk membendung lonjakan impor dari China yang dianggap menekan daya saing produsen di kawasan Eropa.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti/ANTARA