JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Pemerintah Indonesia menyerukan agar Iran dan Amerika Serikat menahan diri serta kembali berkomitmen terhadap upaya gencatan senjata setelah eskalasi ketegangan kembali terjadi di kawasan Selat Hormuz.

Seruan itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, seusai mengikuti rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.

“Kita tentu ingin terus mendorong agar para pihak segera kembali ke meja perundingan, kembali mewujudkan gencatan senjata,” kata Arrmanatha.

Ia menyayangkan situasi yang kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali terlibat saling serang. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan ketegangan baru di jalur strategis Selat Hormuz.

Menurut Arrmanatha, konflik yang terus berlanjut tidak hanya berdampak terhadap masyarakat di negara yang terlibat langsung, tetapi juga berpotensi memengaruhi banyak negara lain.

“Kita pun kembali menyerukan agar semua pihak segera kembali melakukan gencatan senjata dan melakukan perundingan,” ujarnya.

Sebelumnya, bentrokan antara pasukan Iran dan Amerika Serikat dilaporkan pecah pada Kamis dini hari waktu setempat di perairan Teluk Persia dan Teluk Oman.

Dalam laporan Xinhua disebutkan, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengumumkan penutupan penuh Selat Hormuz menyusul meningkatnya ancaman keamanan di jalur pelayaran tersebut.

Laporan awal menyebutkan sejumlah kapal Amerika Serikat yang berada di sekitar Selat Hormuz menjadi sasaran serangan rudal dan drone yang diluncurkan angkatan bersenjata Iran.

Ledakan juga dilaporkan terdengar di beberapa wilayah, seperti Sirik, Minab, Bandar Abbas, Pulau Qeshm, dan Hengam yang berada di Provinsi Hormozgan.

Selain itu, kantor berita semiresmi Iran, Mehr, melaporkan sistem pertahanan udara Iran diaktifkan di wilayah barat Teheran serta Provinsi Fars di bagian selatan Iran.

Setelah insiden tersebut, Selat Hormuz dinyatakan tertutup bagi seluruh jenis kapal, termasuk kapal tanker minyak dan kapal niaga, karena alasan keamanan.

Ketegangan di kawasan itu disebut bermula sejak 28 Februari 2026 setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Situasi tersebut kemudian memicu rangkaian konfrontasi militer, aksi saling balas serangan, hingga ketegangan diplomatik.

ANTARA/Xinhua