BORNEONEWS, Palangka Raya – TIM pengendali inflasi daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) tidak mau disalahkan soal inflasi yang tinggi di Desember 2016. Sebab menurut mereka, setiap Desember terjadi inflasi adalah sebuah tradisi yang sulit dihindarkan.

“Bulan Desember selalu saja terjadi Inflasi akibat naiknya harga barang. Ini merupakan tradisi yang tidak terbantahkan dan secara history (sejarah) demikian. Pada Desember 2015 lalu inflasi 1,05%, Desember 2016 inflasi 1,29%,” Deputi Perwakilan BI Kalteng bidang Ekonomi dan Moneter, Setian saat rapat di Sekretariat TPID Kalteng, Kamis (5/1/2017).

“Kita sudah menjaga ketersediaan pasokan, tetapi permintaan tinggi di luar perkiraan selalu menjadi kendala. Untuk Desember 2016 ini, masalahnya Natal bersamaan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus, sehingga mendorong naiknya harga berlebihan,” kilahnya.

Bicara Inflasi, sambung Setian yang juga merupakan bagian TPID Kalteng, berkaitan kondisi suplai (ketersediaan pasokan) dan demand (permintaan) di pasaran. Ketika proyeksi pasokan cukup maka distribusi harus dijaga agar tidak sempat kekosongan. Begitu kekosongan terjadi, hal itu dimanfaatkan pialang atau spekulan, sehingga lonjakan harga terjadi.

Kepala Bagian Bina Sarana Perekonomian, Suryadi yang juga Sekretaris TPID Kalteng menjelaskan, pihaknya selalu memantau pergerakan harga terutama komoditas bahan pokok yang belum banyak diproduksi di Kalteng.

“Kita memastikan ketersediaan jangan sampai kelangkan pasokan atau menipisnya persediaan. Kalau menipis, kita khawatir lonjakan harga. Kalau keterlambatan pengiriman, kita sangat pantau sebab cuaca atau lainnya. Sebab sebagian besar kebutuhan Kalteng ini dipasok dari luar daerah,”kata dia. (RZ/B-8)