BORNEONEWS, Palangka Raya – TERKAIT tingginya inflasi menutup akhir tahun 2016, tim pengendali inflasi daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) tidak mau disalahkan. Sebab menurut mereka sudah berupaya maksimal menekan inflasi yang selalu tinggi setiap Desember dan telah menjadi sebuah tradisi yang sulit dihindarkan.

TPID hanya mengungkap janji akan melakukan hal yang lebih baik lagi ke depan dengan langkah yang lebih strategis dan sistematis untuk memonitor permintaan dan penawaran demi mengantisipasi lonjakan harga. 

“Kita akan inventarisasi lagi dengan instansi atau SKPD terkait untuk lakukan rencana aksi lalu diformulasikan untuk rencana kerja 2017. Ini dalam rangka untuk pengendalian inflasi,” kata Kepala Bagian Bina Sarana Perekonomian yang juga Sekretaris TPID Kalteng, Suryadi di kantornya, Kamis (5/1/2017).

“Akan segera tentukan kapan lakukan kerja dan bagaimana bentuknya. Terutama pertajam bidang perikanan akan lalukan apa dan bagaimana, begitu pula bidang pertanian, dan sebagainya,” lanjut dia membeberkan.

Pejabat Dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Kalteng Ilham Fauzi juga tak kalah dalam berargumen mengenai kondisi pasokan yang dinilai sebagai penyebab melonjaknyaharga terutama saat Natal dan jelang Tahun baru. Ia menyandarkan pada kondisi cuaca, sementara banyak barang kebutuhan Kalteng mengandalkan pasokan dari luar daerah.

“Pada kondisi tertentu, produk tidak bisa bertahan cukup lama, sementara kondisi pasar tidak ada dan disaat yang sama cuaca kurang baik. Lalu berikutnya, ada pihak yang sering minta dalam jumlah banyak sekali, ini yang seringkali kita monitor,” kata Ilham.

Pejabat dinas pertanian dan peternakan (Distanak) Kalteng Fathur Rahman juga tidak mau kalah saat menanggapi komoditas ayam ras yang menjadi andil tertinggi barang pemicu inflasi Desember 2016. Menurut dia, pihaknya sudah menyiapkan 30 ribu ekor namun ternyata dalam puncak permintaan ternyata tidak mencukupi dan terendus spekulan pasar.

Menurut dia, harga daging ayam ras di pasaran yang tembus Rp 40 ribu per Kg dari biasanya berkisar 28 ribu hingga 35 ribu, adalah hal yang sudah ditekan dengan maksimal melalui pasar penyeimbang di tengah puncak permintaan yang sangat tinggi saat natal dan tahun baru.

“Itu sudah menakan betul. Andai tidak tertolong dengan adanya Pasar Penyeimbang,mungkin bisa malah tembus Rp 50 ribu per Kg saat kemarin itu,” bantahnya menandaskan.

“Harga daging ayam ras pada tahun lalu, sangat tinggi dan sangat sulit kita kontrol. Bahkan dalam setahun tiga kali terjadi lonjakan harga ayam ras dan menjadi andil tertinggi inflasi. Nah, gejolak itu kita pelan-pelan-pelan berhasil lakukan itu tahun ini dengan adanya produksi kandang dan pasar penyeimbang sebagai patokan harga pasar agar pedagang tidak main-main membuat harga, lalu spekulan tidak asal menaikkan harga,” beber dia. (RZ/B-8)