BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, untuk memasok bawang merah dan cabai rawit langsung ke Sampit.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengendalikan inflasi daerah yang dipicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, khususnya bawang merah dan cabai rawit.
Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, mengatakan komunikasi langsung telah dilakukan dengan Bupati Brebes. Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan dapat membantu menambah pasokan dan menstabilkan harga di pasaran.
“Saya langsung menelpon Bupati Brebes, kebetulan kami kenal baik, jadi kita mengupayakan mendatangkan bawang merah dan cabai rawit itu langsung dari sana supaya mengendalikan harga yang ada di Kotim ini,” kata Halikinnor di Sampit, Jumat, 12 Juni 2026.
Halikinnor menjelaskan, langkah tersebut diambil setelah rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPID. Dalam rapat itu diketahui inflasi Kota Sampit pada Mei 2026 mengalami peningkatan yang salah satunya dipengaruhi kenaikan harga bawang merah dan cabai rawit.
Ia menyebut, kondisi ekonomi global turut berdampak terhadap harga kebutuhan pokok di daerah. Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dinilai berpengaruh terhadap harga bahan bakar minyak atau BBM.
Kenaikan biaya energi tersebut kemudian berdampak pada biaya transportasi dan distribusi barang, termasuk komoditas pangan yang dipasok dari luar daerah.
Di Kotawaringin Timur, sebagian besar kebutuhan bawang merah dan cabai rawit masih mengandalkan pasokan dari Pulau Jawa. Karena itu, ketika biaya distribusi naik, harga komoditas tersebut ikut terdorong naik.
“Saat rapat TPID kemarin memang masih ada peningkatan pada inflasi kita. Untuk Mei 2026 itu inflasi year-on-year kita berada di angka 4,18 persen, meningkat dibanding April 2026 yang 3,65 persen. Makanya, kita upayakan untuk menurunkan inflasi dengan menstabilkan harga yang ada,” tuturnya.
Halikinnor menilai kenaikan harga perlu segera diantisipasi agar tidak semakin membebani masyarakat. Pemkab Kotim tidak ingin lonjakan harga berlangsung lama karena dapat memengaruhi daya beli dan stabilitas ekonomi daerah.
Karena itu, pemerintah daerah berupaya menjalin komunikasi langsung dengan daerah penghasil komoditas pangan. Salah satunya melalui kerja sama antar badan usaha milik daerah atau BUMD.
Skema kerja sama business to business atau B2B antara BUMD Kotim dan BUMD Brebes tengah disiapkan agar distribusi bawang merah dan cabai rawit ke Sampit dapat berjalan lebih efektif.
Skema tersebut diharapkan mampu memangkas rantai distribusi, sehingga harga jual di pasar dapat lebih terkendali dan pasokan tetap mencukupi.
Halikinnor menyampaikan, komunikasi awal dengan Pemerintah Kabupaten Brebes mendapat respons positif. Ia juga telah menginstruksikan BUMD Kotim untuk segera berkoordinasi dengan BUMD Brebes terkait teknis pengiriman komoditas ke Sampit.
“Kami berharap dengan pasokan bawang merah dan cabai yang mencukupi maka harga dapat berangsur turun. Kami juga akan terus memantau perkembangan harga bahan pokok guna menjaga kestabilan inflasi di daerah kita,” demikian Halikinnor.









