SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) memastikan jembatan kayu di Jalan Walter Condrat yang selama ini mengalami kerusakan berat akan diganti dengan konstruksi yang lebih permanen berupa triple box culvert pada tahun 2026.

Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim Mentana Dhinar Tistama mengatakan seluruh dokumen perencanaan pembangunan telah rampung dan saat ini tinggal menunggu proses lelang pekerjaan.

"Jembatan kayu di Jalan Walter Condrat yang kondisinya sudah rusak berat, ini juga tahun ini insyaallah kita ganti. Jadi di situ akan kita bangun triple box culvert, jadi box culvert yang lubangnya tiga," kata Mentana, Sabtu, 13 Juni 2026.

Menurut dia, pembangunan tersebut menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah untuk meningkatkan keselamatan dan kelancaran akses transportasi masyarakat di kawasan tersebut.

Saat ini, pihaknya tengah menyelesaikan berbagai persyaratan administrasi sebagai tahapan sebelum pelaksanaan tender proyek dimulai.

"Saat ini masih proses kelengkapan dokumen untuk proses lelang. Mungkin akhir-akhir Juni sudah mulai proses lelang. Proses lelang itu kan kurang lebih 30 sampai 42 hari," ujarnya.

Mentana menjelaskan, sebenarnya proyek penggantian jembatan itu sudah siap dilaksanakan sejak awal tahun. Namun, sejumlah penyesuaian harus dilakukan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Sehingga harus melakukan penyesuaian harga material yang memengaruhi perhitungan anggaran proyek.

"Kita sebenarnya sudah siap di awal tahun, tetapi dengan fluktuasi harga BBM, kemudian apalagi ini sekarang dolar naik, rupiah turun, ini kan juga berpengaruh. Tetapi kita sudah kita kaji, sudah kita revisi untuk SHBJ juga sudah direvisi. Jadi mudah-mudahan tidak ada kendala lah," tandasnya. 

Diketahui jembatan Walter kontra yang berkontruksi kayu saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Lantai jembatan tidak rata dan kayu sudah tua dikhawatirkan roboh saat kendaraan melintas. (DEWI PATMALASARI/y)