BORNEONEWS, Jakarta - Timnas Qatar mencatat sejarah baru di Piala Dunia 2026 setelah meraih poin perdana sepanjang keikutsertaannya di ajang tersebut.
Momen bersejarah itu tercipta saat Qatar menahan imbang Swiss 1-1 pada laga Grup B Piala Dunia 2026 di Stadion San Francisco Bay Area, Amerika Serikat, Minggu, 14 Juni 2026 WIB.
Qatar sempat tertinggal lebih dulu melalui penalti Breel Embolo pada menit ke-17. Namun, mereka akhirnya menyamakan kedudukan lewat gol bunuh diri bek Swiss, Miro Muheim, pada menit 90+4.
Hasil imbang tersebut disambut meriah para pemain, suporter, dan masyarakat Qatar. Meski hanya meraih satu poin, capaian itu menjadi sangat berarti karena merupakan poin pertama Qatar di Piala Dunia.
Pada debutnya di Piala Dunia 2022, Qatar yang berstatus tuan rumah selalu menelan kekalahan pada fase grup.
Keberhasilan meraih poin di Piala Dunia 2026 bukan datang secara instan. Capaian itu merupakan buah dari proses panjang pembinaan sepak bola yang telah dibangun Qatar selama lebih dari dua dekade.
Dengan jumlah penduduk sekitar tiga juta jiwa, Qatar menyadari perlunya sistem pembinaan olahraga yang serius untuk melahirkan talenta unggul. Salah satu langkah strategis dilakukan pada 2004 melalui pendirian Academy for Sports Excellence atau Aspire Academy.
Akademi tersebut menjadi pusat pencarian, pembinaan, dan pengembangan bakat muda di berbagai cabang olahraga, termasuk sepak bola.
Di Aspire Academy, para atlet muda mendapatkan fasilitas pembinaan secara menyeluruh. Mereka tidak hanya dilatih secara teknis, tetapi juga mendapat dukungan pendidikan, kesehatan, nutrisi, dan fasilitas latihan berstandar tinggi.
Untuk cabang sepak bola, Aspire Academy tidak membuka pendaftaran umum. Pemain muda dipilih melalui proses pencarian bakat dan seleksi ketat.
Setiap tahun, ribuan pesepak bola muda berusia 8 hingga 18 tahun masuk dalam pemantauan. Namun, hanya sebagian kecil yang kemudian mendapat kesempatan mengikuti program penuh sebagai student-athletes hingga usia 18 tahun.
Pembinaan jangka panjang itu mulai menunjukkan hasil dalam berbagai level kompetisi. Pada 2014, Timnas Qatar U-19 yang seluruh pemainnya berasal dari Aspire Academy berhasil menjuarai Piala Asia U-19 di Myanmar dan lolos ke Piala Dunia U-20 2015.
Kontribusi jebolan Aspire juga terlihat saat Qatar finis di peringkat ketiga Piala Asia U-23 2018. Saat Qatar menjuarai Piala Asia 2019, sebagian besar skuadnya juga merupakan alumnus akademi tersebut.
Salah satu jebolan terbaik Aspire Academy adalah Almoez Ali. Ia mencetak sembilan gol pada Piala Asia 2019 dan memecahkan rekor gol terbanyak dalam satu edisi turnamen tersebut.
Pada Piala Dunia 2022, skuad Qatar juga banyak diisi pemain lulusan Aspire Academy. Empat tahun kemudian, di Piala Dunia 2026, Qatar kembali bertumpu pada pemain-pemain hasil pembinaan akademi itu.
Berbeda dengan edisi 2022 ketika lolos sebagai tuan rumah, Qatar menembus Piala Dunia 2026 melalui jalur kualifikasi zona Asia.
Dalam perjalanan tersebut, Qatar mengandalkan sejumlah pemain berpengalaman seperti Akram Afif, Meshaal Barsham, dan Almoez Ali. Mereka kembali dipanggil pelatih Julen Lopetegui untuk memperkuat skuad di Piala Dunia 2026.
Sedikitnya 14 dari 26 pemain Qatar di Piala Dunia 2026 merupakan lulusan Aspire Academy. Selain Akram Afif, Meshaal Barsham, dan Almoez Ali, nama lain yang berasal dari akademi tersebut di antaranya Jassem Gaber, Homam Ahmed, Assim Madibo, Ahmed Fathy, Mahmoud Abunada, Sultan Al-Brake, Ahmed Alganehi, Ahmed Alaaeldin, dan Tahsin Mohammed.
Strategi Qatar membangun sepak bola melalui pembinaan usia muda menjadi contoh bahwa prestasi besar membutuhkan proses panjang.
Poin pertama Qatar di Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa investasi pada pembinaan, fasilitas, dan pengembangan talenta dapat menghasilkan perubahan besar dalam sepak bola suatu negara.
ANTARA









