BORNEONEWS, Tokyo - Pemerintah Jepang akan mengirim sejumlah pakar ke Greenland pada musim panas tahun ini untuk mengkaji potensi penambangan logam tanah jarang dan mineral strategis lainnya.
Rencana tersebut dilaporkan harian Nikkei, sebagaimana dikutip dari Sputnik/RIA Novosti-OANA.
Dalam kunjungan itu, para ahli Jepang akan berkonsultasi dengan Pemerintah Otonom Greenland. Mereka juga dijadwalkan meninjau lokasi tambang yang saat ini sedang disiapkan untuk kegiatan penambangan logam tanah jarang.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Jepang untuk mendiversifikasi sumber pasokan mineral penting. Terlebih, pasar global saat ini masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap China dalam produksi logam tanah jarang.
China diketahui menyumbang sekitar 70 persen produksi logam tanah jarang dunia, termasuk disprosium. Mineral tersebut menjadi salah satu komponen penting dalam mesin kendaraan listrik.
Nikkei melaporkan, Survei Geologi Amerika Serikat atau US Geological Survey memperkirakan cadangan logam tanah jarang di Greenland mencapai 1,5 juta ton.
Jumlah tersebut menempatkan Greenland di peringkat kedelapan dunia sebagai wilayah dengan cadangan logam tanah jarang terbesar.
Berdasarkan potensi itu, Jepang berencana mempelajari jenis sumber daya yang tersedia, besaran cadangan, hingga perkiraan biaya produksi.
Kajian tersebut akan menjadi dasar untuk menilai kelayakan dan skala investasi yang dapat dilakukan perusahaan-perusahaan Jepang pada masa mendatang.
Sebelumnya, pada November 2025, delegasi gabungan pemerintah dan sektor swasta Jepang telah mengunjungi sebuah tambang feldspar yang beroperasi di Greenland.
Menurut Nikkei, pihak Jepang menilai tambang tersebut tetap memiliki potensi bisnis, meskipun berada di lingkungan dengan kondisi cuaca sangat dingin.
Feldspar merupakan kelompok mineral silikat yang menjadi salah satu komponen utama pembentuk kerak bumi. Mineral ini banyak ditemukan pada batuan beku, metamorf, maupun sedimen.
Kerak bumi diperkirakan tersusun atas sekitar 60 persen feldspar, 12 persen kuarsa, dan sisanya berbagai mineral lain.
Meski termasuk salah satu mineral paling melimpah di bumi, nilai ekonomi feldspar umumnya tidak setinggi logam tanah jarang, emas, tembaga, maupun litium.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA-ANTARA









