JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Duel Belanda melawan Jepang di Grup F Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi salah satu laga menarik yang menyajikan adu taktik tingkat tinggi.

Kedua tim dikenal memiliki karakter permainan menyerang, mengutamakan build up, serta menempatkan kerja sama tim sebagai fondasi utama dalam membangun serangan.

Belanda datang dengan warisan besar total football. Filosofi itu membuat setiap pemain bergerak cair, tidak terpaku pada posisi awal, dan saling mengisi ruang untuk menjaga keseimbangan permainan.

Bagi Oranje, sepak bola bukan sekadar soal penguasaan bola, tetapi juga tentang pergerakan kolektif, fleksibilitas, dan kesetaraan peran di lapangan.

Jepang juga memiliki pendekatan yang tidak jauh berbeda. Samurai Biru membangun sepak bola melalui disiplin, kerja sama, teknik, dan kolektivitas yang kuat.

Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang mengembangkan konsep permainan yang dikenal sebagai Japan’s Way. Filosofi ini menjadi bagian dari ambisi besar mereka untuk suatu saat menjuarai Piala Dunia.

Pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, kerap menerapkan formasi 4-2-3-1. Namun saat menguasai bola, pola itu dapat berubah menjadi 3-2-4-1 atau 3-4-3.

Jepang memadukan taktik modern ala Eropa dengan umpan cepat, rotasi posisi, serta pressing agresif untuk menekan lawan sejak awal.

Meski demikian, Moriyasu bukan pelatih yang kaku. Ia sering menyesuaikan strategi dengan karakter lawan, termasuk memakai pola 4-3-3 dalam beberapa kesempatan.

Di kubu Belanda, Ronald Koeman juga dikenal cukup fleksibel. Meski 4-3-3 menjadi pola yang lekat dengan identitas total football, Koeman tidak ragu memakai tiga bek tengah jika situasi menuntut.

Formasi 3-5-2 atau 3-4-3 kerap digunakan untuk memperkuat struktur pertahanan tanpa menghilangkan karakter menyerang Oranje.

Karena itu, pertemuan Belanda dan Jepang bukan hanya soal adu kualitas pemain, tetapi juga pertarungan ide permainan antara dua pelatih yang sama-sama adaptif.

Laga yang akan berlangsung di Dallas Stadium, Arlington, Texas, Senin, 15 Juni 2026 pukul 03.00 WIB, menjadi pertemuan kedua kedua tim di putaran final Piala Dunia.

Sebelumnya, Belanda dan Jepang pernah bertemu pada Piala Dunia 2010. Saat itu Jepang kalah tipis 0-1 dari Belanda di fase grup.

Secara keseluruhan, kedua tim telah bertemu tiga kali sebelum laga Grup F Piala Dunia 2026. Dari catatan itu, Belanda masih lebih unggul dengan satu kemenangan dan dua hasil imbang.

Dari sisi sejarah Piala Dunia, Belanda juga memiliki rekam jejak lebih mentereng. Oranje tiga kali menjadi finalis pada edisi 1974, 1978, dan 2010, meski belum pernah mengangkat trofi.

Sementara Jepang belum pernah melangkah lebih jauh dari babak 16 besar dalam delapan edisi Piala Dunia sebelumnya, termasuk saat menjadi tuan rumah pada 2002.

Namun, Jepang saat ini bukan lagi tim yang mudah diremehkan. Samurai Biru tampil semakin matang dan menunjukkan perkembangan besar dalam beberapa tahun terakhir.

Selama babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, Jepang tampil sangat produktif dengan mencetak 54 gol. Mereka juga menjadi tim pertama di luar tuan rumah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko yang memastikan tiket ke Piala Dunia 2026.

Tidak hanya tajam di depan, Jepang juga memiliki pertahanan kokoh. Mereka hanya kebobolan tiga kali sepanjang kualifikasi zona Asia.

Kekuatan pertahanan Jepang tidak dibangun melalui permainan bertahan pasif atau low block. Sebaliknya, mereka mengandalkan pressing intens saat kehilangan bola dan tetap agresif ketika membangun serangan.

Performa Jepang semakin diperhitungkan setelah menyapu bersih enam laga persahabatan sebelum Piala Dunia 2026.

Korban mereka bukan tim sembarangan. Brasil dan Inggris, yang sama-sama berstatus mantan juara dunia, sempat dikalahkan Jepang dalam laga uji coba.

Meski tidak lagi diperkuat Wataru Endo yang pensiun dari tim nasional dan Kaoru Mitoma yang cedera, Jepang tetap memiliki kedalaman skuad menjanjikan.

Moriyasu masih memiliki sejumlah pemain penting seperti Ayase Ueda, Takehiro Tomiyasu, Takefusa Kubo, Daichi Kamada, Maya Yoshida, dan Ao Tanaka.

Ayase Ueda bahkan datang dengan modal bagus setelah meraih Sepatu Emas di Liga Belanda. Pengalamannya menghadapi pemain-pemain Eropa bisa menjadi nilai tambah bagi Samurai Biru.

Sebagian besar skuad Jepang juga berkarier di Eropa. Dari 26 pemain yang dibawa Moriyasu ke Piala Dunia 2026, sebanyak 23 di antaranya bermain di klub-klub Eropa.

Belanda sendiri tetap memiliki materi pemain berkualitas. Virgil van Dijk menjadi pemimpin di lini belakang, sementara Cody Gakpo, Justin Kluivert, Donyell Malen, dan Crysencio Summerville menjadi ancaman di lini depan.

Namun, performa Oranje menjelang Piala Dunia 2026 belum sepenuhnya meyakinkan. Mereka memang tidak terkalahkan di babak kualifikasi dan lolos sebagai juara grup, tetapi hasil uji coba terakhir menunjukkan beberapa catatan.

Belanda sempat kalah 0-1 dari Aljazair di Rotterdam pada 3 Juni. Setelah itu, Oranje menang tipis 2-1 atas debutan Uzbekistan dalam laga persahabatan terakhir.

Dalam dua laga tersebut, Belanda sebenarnya mampu menciptakan banyak peluang. Namun, penyelesaian akhir menjadi persoalan yang masih perlu diperbaiki.

Malen dan Summerville beberapa kali membuang peluang emas. Meski begitu, keduanya tetap menunjukkan bahwa pemain-pemain Belanda mampu berada di posisi berbahaya.

Hal itu menjadi peringatan bagi Jepang. Oranje mungkin belum tampil sempurna, tetapi mereka tetap memiliki kualitas untuk menghukum setiap kelengahan lawan.

Dengan karakter kedua tim yang sama-sama menyerang, laga Belanda melawan Jepang berpotensi berjalan terbuka dan ketat.

Jepang memiliki pressing kuat dan kolektivitas tinggi, sementara Belanda unggul dalam pengalaman, kualitas individu, dan fleksibilitas taktik.

Hasil imbang menjadi kemungkinan yang cukup terbuka dalam laga ini. Namun jika ada pemenang, pertandingan diperkirakan tidak akan berakhir dengan selisih gol besar.

ANTARA