BORNEONEWS, Jember - Burung puyuh gonggong biasa atau Arborophila orientalis dinilai berpotensi menjadi fauna khas Bumi Pandalungan.
Peneliti Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember, Arif Mohammad Siddiq, mengatakan burung tersebut memiliki keunikan karena habitatnya terbatas di sejumlah kawasan tertentu.
“Fauna itu unik dan tiada duanya karena hanya ada di Bumi Pandalungan. Burung itu hanya hidup di dataran tinggi Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri,” katanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu, 14 Juni 2026.
Menurut Arif, informasi mengenai puyuh gonggong biasa belum banyak diketahui masyarakat. Padahal, burung tersebut memiliki karakter khas dan saat ini berada dalam status rentan terhadap kepunahan.
Ia mengaku telah melakukan pengamatan selama tiga tahun di kawasan Pegunungan Ijen dan Taman Nasional Meru Betiri untuk mempelajari kehidupan burung endemik tersebut.
“Saya sudah tiga tahun naik turun di wilayah Pegunungan Ijen dan Taman Nasional Meru Betiri untuk melakukan pengamatan puyuh gonggong biasa. Banyak keunikan puyuh gonggong biasa yang berpotensi menjadikannya sebagai fauna khas Bumi Pandalungan,” tuturnya.
Arif menjelaskan, puyuh gonggong biasa tidak ditemukan di luar kawasan dataran tinggi Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri.
Burung ini mendapat julukan puyuh gonggong karena memiliki suara melengking yang terdengar seperti gonggongan anjing.
Berdasarkan hasil pengamatan, puyuh gonggong biasa hidup berkelompok antara lima hingga 15 ekor. Habitatnya berada di kawasan dengan ketinggian 500 hingga 2.200 meter di atas permukaan laut, dan umumnya ditemukan di atas ketinggian 1.000 meter.
“Mereka aktif mencari makan di pagi dan sore hari menjelang malam di lantai hutan yang tutupan kanopi pohonnya masih rapat,” kata Arif.
Untuk memantau kehidupan puyuh gonggong biasa di alam liar, Arif menggunakan kamera jebak. Dari pengamatan itu, ia juga menemukan sejumlah satwa lain di kawasan Pegunungan Ijen, seperti ajag, merak, hingga macan tutul.
Menurutnya, keberadaan puyuh gonggong biasa semakin memperkaya daya tarik alam Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri.
“Keberadaan burung endemik itu menambah daya tarik wilayah Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri. Keberadaan puyuh gonggong biasa melengkapi kekayaan alam Bumi Pandalungan,” ujarnya.
Dalam penelitian bersama tim pada 2021 di Pegunungan Ijen, tercatat 57 spesies burung. Dari jumlah tersebut, 10 di antaranya termasuk jenis burung yang dilindungi.
Beberapa jenis burung yang ditemukan antara lain burung madu gunung, elang hitam, julang emas, cekakak Jawa, dan puyuh gonggong biasa.
Meski berstatus rentan punah, Arif menyebut puyuh gonggong biasa belum masuk daftar satwa yang dilindungi. Saat ini, keberadaannya terancam oleh alih fungsi lahan dan perburuan liar.
“Walau statusnya terancam punah, namun puyuh gonggong biasa belum masuk dalam satwa yang dilindungi. Hidupnya kini terancam oleh alih guna lahan dan perburuan liar,” katanya.
Para peneliti Universitas Jember mendorong pemerintah segera memasukkan puyuh gonggong biasa sebagai satwa yang dilindungi.
Arif juga mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran untuk menjaga kelestarian alam dan habitat satwa endemik tersebut.
“Puyuh gonggong berpotensi menjadi fauna khas dan kebanggaan warga Jember dan sekitarnya, sehingga wajib dilindungi, termasuk memperbanyak penelitian dan kajian mengenai puyuh gonggong agar makin banyak informasi yang dihasilkan. Harapannya masyarakat tahu dan tergerak melestarikannya,” ujarnya.
ANTARA









