BORNEONEWS, Palangka Raya - Harga minyak goreng merek MinyaKita di Pasar Besar Palangka Raya masih dijual jauh di atas Harga Eceran Tertinggi atau HET yang ditetapkan pemerintah.
Berdasarkan pantauan BORNEONEWS.CO.ID pada Minggu sore, 14 Juni 2026, harga MinyaKita di kawasan pasar tersebut rata-rata mencapai Rp21.000 per liter.
Padahal, HET MinyaKita yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.
Salah seorang pedagang minyak goreng di Pasar Besar Palangka Raya, Amat, mengatakan kenaikan harga tersebut sudah terjadi hampir sepekan terakhir.
"Sudah hampir seminggu ini harganya sekitar Rp21 ribu per liter. Kami juga mengambil barang dari distributor dengan harga yang lebih tinggi, jadi menyesuaikan harga jual," katanya.
Kondisi ini mulai dirasakan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM serta ibu rumah tangga.
Salah seorang pelaku UMKM makanan ringan di Palangka Raya, Siti Rahma, mengaku biaya produksi usahanya ikut meningkat karena minyak goreng menjadi salah satu kebutuhan utama dalam proses produksi.
"Kalau harga minyak terus naik, otomatis biaya produksi kami ikut naik. Kami sulit menaikkan harga jual karena khawatir pelanggan berkurang. Akhirnya keuntungan yang terpotong," ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat memastikan distribusi MinyaKita berjalan lancar, sehingga masyarakat bisa mendapatkan minyak goreng sesuai harga yang telah ditetapkan.
Keluhan serupa disampaikan Nurhayati, seorang ibu rumah tangga di Palangka Raya. Ia mengaku harus lebih cermat mengatur belanja harian karena kenaikan harga minyak goreng berdampak pada pengeluaran keluarga.
"Selisih Rp5 ribuan per liter memang terlihat kecil, tetapi kalau belanja rutin setiap minggu tentu terasa. Apalagi sekarang harga beberapa kebutuhan pokok lainnya juga masih tinggi," katanya.
Nurhayati berharap pemerintah segera meningkatkan pengawasan di lapangan agar harga MinyaKita kembali mendekati HET dan tidak semakin membebani masyarakat.
Dengan harga Rp21.000 per liter, terdapat selisih sekitar Rp5.300 dari HET. Selisih tersebut dinilai cukup memberatkan, terutama bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada minyak goreng dalam aktivitas sehari-hari. (MARINI/J)









