BORNEONEWS, Sampit – Hingga pertengahan Juni 2026, pembangunan jaringan listrik baru yang direncanakan melalui Bagendang, Pulau Lepeh, hingga Desa Hanaut belum menunjukkan perkembangan. Padahal proyek tersebut digadang menjadi solusi bagi masyarakat Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang terus mengalami gangguan pasokan listrik.
"Masyarakat mempertanyakan karena sampai saat ini belum ada progres perkembangannya. Jaringan listrik yang direncanakan melalui Begendang, Pulau Lepeh, hingga Desa Hanaut itu belum terealisasi secara jelas," kata Camat Pulau Hanaut Fahrujiansyah, Senin, 15 Juni 2026.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur jaringan listrik tersebut masih terkendala proses perizinan. Meski pondasi untuk beberapa menara transmisi telah selesai dibangun, pemasangan tower hingga saat ini belum dapat dilakukan.
"Sampai saat ini tidak ada progres untuk pendirian tower karena informasi yang disampaikan PLN masih terkendala perizinan. Hanya pondasi sudah ada untuk empat tiang di Begendang satu, di Pulau Lepeh dua, di Desa Hanaut satu," ujarnya.
Padahal, lanjut dia, dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama PLN yang digelar di DPRD Kotim akhir tahun lalu, proyek tersebut ditargetkan rampung paling lambat pada Mei 2026.
Berdasarkan informasi yang ia terima, tim Badan Pertanahan Nasional (BPN) disebut telah melakukan survei lapangan sebagai bagian dari tahapan perizinan tersebut Mei lalu. Sehingga saat ini proses yang masih berlangsung berkaitan dengan perizinan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR).
Lebih lanjut, keberadaan jaringan listrik baru tersebut sangat dinantikan masyarakat karena jaringan yang saat ini digunakan masih melewati kawasan hutan dari Kecamatan Seranau menuju Kecamatan Pulau Hanaut. Kondisi tersebut membuat jaringan rentan mengalami gangguan, terutama saat cuaca buruk.
"Jaringan yang saat ini itu melewati melewati hutan dari Desa Ganepo, Kecamatan Seranau hingga Desa Rawasari, Kecamatan Pulau Hanaut," jelasnya.
Ia menambahkan, gangguan listrik yang terjadi tidak hanya disebabkan cuaca ekstrem, tetapi juga faktor lingkungan seperti pohon tumbang maupun gangguan satwa yang mengenai jaringan listrik.
"Jadi kalau ada cuaca ekstrem atau ada gangguan binatang, ada pohon roboh segala macam, itu bisa mengakibatkan padam. Padam ini kadang-kadang pernah sampai hampir 20 hari padamnya karena 10 tiang roboh," katanya.
Selain pemadaman, masyarakat juga sering mengeluhkan tegangan listrik yang tidak stabil sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
"Kalau tidak padam kadang-kadang tegangannya turun. Masyarakat mengeluh sering padam," ujarnya.
Pemerintah Kecamatan Pulau Hanaut berharap proses perizinan dapat segera rampung sehingga pembangunan tower dan jaringan listrik baru bisa dilanjutkan dan masyarakat merasakan pasokan listrik yang lancar. (DEWI PATMALASARI/j)









