KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Bagi sebagian masyarakat, Kapuas Barat mungkin lebih dikenal karena keberadaan Feri Mandomai yang menjadi sarana penyeberangan Sungai Kapuas. Padahal, di balik lalu lalang kendaraan dan penumpang yang melintas setiap hari, kecamatan ini menyimpan jejak sejarah panjang yang masih dapat ditemukan hingga sekarang, mulai dari gereja tertua di Kalimantan Tengah, rumah berusia lebih dari satu abad, hingga bangunan-bangunan tua yang menjadi bagian dari warisan budaya daerah.

Camat Kapuas Barat, M. Riza Fahlevi, mengatakan wilayahnya memiliki sejumlah potensi wisata sejarah, religi, dan budaya yang layak diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat. Menurutnya, berbagai peninggalan tersebut menjadi bukti perjalanan panjang masyarakat Kapuas Barat yang masih terjaga hingga saat ini.

Salah satu yang paling menonjol adalah Gereja GKE Imanuel Mandomai yang berdiri sejak tahun 1875. Bangunan yang telah berusia lebih dari satu setengah abad itu dikenal sebagai gereja tertua di Kalimantan Tengah dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Hingga kini, gereja tersebut masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus menjadi tujuan wisata religi dan sejarah.

"Kapuas Barat memiliki banyak potensi wisata, salah satunya Gereja GKE Imanuel Mandomai yang dibangun pada tahun 1875 dan merupakan gereja tertua di Kalimantan Tengah," ujar Riza.

Keunikan gereja tersebut tidak hanya terletak pada usianya. Di dalam bangunan terdapat tiga panel kaca patri atau mozaik yang menggambarkan kelahiran, penyaliban, dan kebangkitan Yesus Kristus. Berdasarkan data cagar budaya dan sejumlah publikasi sejarah gereja, kaca patri sejenis disebut hanya terdapat di tiga lokasi di dunia, yakni di Jerman, Brasil, dan Indonesia. Salah satu di antaranya berada di Gereja GKE Imanuel Mandomai.

Selain gereja bersejarah tersebut, Kapuas Barat juga memiliki Huma Hai yang diperkirakan telah berusia lebih dari 100 tahun. Bangunan berarsitektur tradisional itu masih berdiri hingga sekarang dan menjadi salah satu peninggalan penting yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa lalu. Keberadaannya menjadi bagian dari identitas sejarah yang masih dapat disaksikan langsung oleh generasi saat ini.

Jejak sejarah lainnya juga dapat ditemukan di sejumlah kawasan Mandomai dan Saka Mangkahai. Di wilayah tersebut masih terdapat rumah-rumah tua yang diperkirakan telah berusia lebih dari 50 tahun dan tetap mempertahankan bentuk arsitektur khasnya. Bangunan-bangunan tersebut menjadi saksi perkembangan permukiman masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai Kapuas.

Tak hanya itu, Kapuas Barat juga memiliki Jembatan Bowstring yang menjadi salah satu ikon wilayah. Keberadaannya menambah daya tarik kawasan sekaligus melengkapi ragam objek yang dapat dikunjungi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah dan perkembangan daerah tersebut.

Riza berharap potensi wisata sejarah, budaya, dan religi yang dimiliki Kapuas Barat dapat terus dilestarikan dan mendapat perhatian lebih luas. Dengan dukungan promosi dan pengelolaan yang baik, berbagai peninggalan bersejarah tersebut dinilai dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal warisan budaya daerahnya sendiri. (SABRIANOOR/j)