SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi (Stamet) H Asan Kotawaringin Timur  mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.

"Kalau berdasarkan data beberapa hari ini kita masih ada hujan. Jadi, awalnya kita memang memprediksi awal Juni sudah memasuki musim kemarau. Sekarang memang sudah masuk musim kemarau, tetapi bukan berarti langsung tidak ada hujan sama sekali. Tetap masih ada hujan yang turun secara berkala," kata Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo, Selasa, 16 Juni 2026.

Menurutnya, kondisi musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering akibat pengaruh fenomena iklim global yang saat ini berkembang dari kategori sedang menuju kuat.

"Kalau melihat fenomenanya, kemungkinan besar kondisi tahun ini akan lebih kering. Dengan kondisi itu, potensi terjadinya karhutla juga lebih besar dibanding biasanya. Karena itu kita harus meningkatkan kewaspadaan sejak dini," ujarnya.

Ia menjelaskan pola musim kemarau tahun ini relatif seragam di seluruh wilayah Kotim, baik bagian utara, tengah maupun selatan. Awal musim kemarau diperkirakan terjadi bersamaan pada awal Juni dengan puncak kemarau berlangsung pada Agustus hingga September.

"Untuk tahun ini prediksinya hampir sama di seluruh wilayah Kotim. Awal musim kemarau terjadi berbarengan sejak Juni dan puncaknya diperkirakan pada Agustus hingga September. Pada periode itu masyarakat harus lebih waspada terhadap potensi karhutla," katanya.

Ia menambahkan, durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung sekitar 100 hingga 120 hari atau lebih lama dibanding kondisi normal.

"Kalau biasanya kurang dari tiga bulan, bahkan ada yang kurang dari dua bulan sudah selesai. Tahun ini diperkirakan mencapai 100 sampai 120 hari sehingga durasinya lebih panjang," jelasnya.

BMKG menilai wilayah selatan Kotim menjadi daerah yang paling rentan mengalami kebakaran lahan selama musim kemarau. Hal itu dipengaruhi kondisi lahan gambut yang luas serta arah angin yang diprediksi bertiup lebih dominan dari timur.

"Paling rawan itu wilayah selatan. Karena jika terjadi kebakaran di daerah selatan, angin timur akan membawa asap ke arah Sampit dan sekitarnya. Itu yang harus kita waspadai," tambahnya.

Beberapa wilayah yang dinilai memiliki risiko tinggi karhutla antara lain Kecamatan Pulau Hanaut, Teluk Sampit, dan Mentaya Hilir Selatan yang didominasi lahan gambut.

"Daerah-daerah itu memiliki banyak kawasan gambut sehingga potensi terjadinya kebakaran cukup besar saat kemarau panjang," katanya.

Selain ancaman karhutla, musim kemarau panjang juga berpotensi menyebabkan penurunan debit air sungai dan mengganggu pasokan air bersih, terutama di wilayah selatan Kotim.

"Potensi kekeringan tentu ada karena durasi kemarau cukup panjang. Di wilayah selatan, pasokan air bersih juga cukup riskan karena debit sungai akan menurun," ujarnya.

Mulyono menjelaskan, ketika musim kemarau berlangsung lama, air laut dapat masuk lebih jauh ke daerah aliran sungai sehingga menyebabkan air menjadi payau dan kurang layak digunakan masyarakat.

"Kalau kemarau panjang, air laut bisa naik ke sungai. Kondisi seperti ini pernah terjadi sebelumnya sehingga masyarakat perlu mengantisipasi kemungkinan tersebut," katanya.

Menghadapi musim kemarau 2026, BMKG Kotim mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak, menjaga kesehatan, serta tidak membuka lahan dengan cara membakar.

"Kami mengimbau masyarakat karena saat ini sudah memasuki awal musim kemarau 2026 agar bijak menggunakan air, tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan secara sembarangan, serta tetap menjaga kesehatan selama musim kemarau berlangsung," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/R)