BORNEONEWS, Mexico City - Kegagalan Timnas Indonesia menembus putaran final Piala Dunia 2026 tidak memadamkan semangat Wachidal Mustofa Dimyani untuk hadir langsung di pesta sepak bola terbesar dunia.
Pria asal Tulungagung, Jawa Timur, itu tetap berangkat ke Meksiko dengan membawa semangat Garuda. Baginya, kehadiran suporter Indonesia di Piala Dunia menjadi cara lain untuk menunjukkan kecintaan kepada sepak bola tanah air.
Dimyani sebelumnya menyimpan optimisme besar saat Timnas Indonesia mampu melaju hingga putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026. Harapan melihat Indonesia tampil untuk pertama kalinya di Piala Dunia dengan nama Indonesia membuatnya terus mengikuti perjuangan skuad Garuda.
Ia bahkan datang langsung menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia, baik saat bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta maupun ketika bertanding di kandang lawan.
Keyakinan itu pula yang membawanya berangkat ke Arab Saudi untuk mendampingi perjuangan Indonesia dalam dua laga terakhir putaran keempat kualifikasi.
“Saat itu saya bertekad menjadi saksi sejarah kita lolos pertama kalinya ke Piala Dunia 2026 dengan nama Indonesia,” kata Dimyani, yang juga menjalankan bisnis ritel produk Indonesia di Malaysia.
Dimyani sempat bernazar akan datang langsung ke Meksiko, Amerika Serikat, atau Kanada apabila Indonesia berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.
Namun, harapan itu belum terwujud. Pada Oktober 2025, Timnas Indonesia harus menelan kekalahan 2-3 dari Arab Saudi dan takluk 0-1 dari Irak. Mimpi melihat Garuda tampil di Piala Dunia pun harus tertunda.
Kekecewaan sempat dirasakan Dimyani. Perjalanan jauh ke Arab Saudi yang ia lakukan demi menyaksikan momen bersejarah Timnas Indonesia terasa berat setelah hasil akhir tidak sesuai harapan.
Namun, semangatnya tidak berhenti. Ia memilih tetap melanjutkan tekad untuk hadir di Piala Dunia 2026, meski Indonesia tidak menjadi peserta.
“Tak apa Timnas gagal lolos, saat itu saya bertekad akan tetap menghadiri Piala Dunia 2026 agar Indonesia tetap eksis di sana,” ucapnya.
Setelah menyaksikan kegagalan Indonesia di putaran keempat, Dimyani langsung menyiapkan berbagai dokumen perjalanan. Ia mengurus visa untuk Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat.
“Sejak setahun lalu sudah saya siapkan semua visa di Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat,” katanya.
Saat Piala Dunia 2026 dimulai, Dimyani menempuh perjalanan panjang sekitar 42 jam dari Kuala Lumpur menuju Mexico City, lokasi pembukaan turnamen.
Meksiko menjadi negara ke-49 yang pernah ia kunjungi. Namun, sesampainya di sana, ia masih menghadapi tantangan lain, yakni belum mendapatkan tiket pertandingan pembuka.
“Sayangnya hingga H-1 pembukaan saya belum mendapatkan tiket,” ujarnya.
Sehari sebelum laga pembuka, harga tiket termurah disebut mencapai sekitar Rp30 juta per lembar. Dimyani masih berharap bisa memperoleh tiket dari warga lokal, tetapi harapan itu tidak terwujud hingga hari pertandingan.
Meski gagal masuk stadion, ia tidak ingin melewatkan atmosfer Piala Dunia. Dimyani tetap mendatangi kawasan sekitar Stadion Azteca untuk membaur bersama para suporter Meksiko.
“Tak apa tak bisa masuk stadion, saya akan tetap mendatangi kawasan luar untuk membaur dengan suporter Meksiko,” katanya.
Laga pembuka Piala Dunia 2026 antara tuan rumah Meksiko dan Afrika Selatan digelar pada Kamis, 11 Juni 2026, di Estadio Ciudad de Mexico atau Stadion Azteca.
Dengan mengenakan seragam merah Timnas Indonesia, Dimyani hadir di tengah lautan suporter Meksiko yang didominasi warna hijau. Kehadirannya menarik perhatian banyak warga lokal.
“Saya bisa ikut merayakan gairah sepak bola Piala Dunia di Meksiko ini saja sudah cukup menggembirakan,” tuturnya.
Menurut Dimyani, banyak warga Meksiko yang meminta foto bersama karena tertarik melihat dirinya mengenakan jersey Timnas Indonesia.
Setelah seremoni pembukaan berakhir, ia kemudian mencari kafe untuk menyaksikan pertandingan bersama warga lain yang juga tidak memperoleh tiket.
Meksiko akhirnya menang 2-0 atas Afrika Selatan. Kemenangan itu membuat suasana Mexico City semakin meriah. Perayaan spontan terjadi di berbagai sudut kota.
“Saya sempat ikut perayaan di bawah jembatan layang dekat Stadion Azteca,” katanya.
Euforia berlanjut hingga malam hari. Dimyani kemudian menuju kawasan alun-alun Zocalo untuk merasakan langsung kegembiraan masyarakat Meksiko merayakan kemenangan tim nasional mereka.
Bagi Dimyani, pengalaman berada di tengah atmosfer Piala Dunia menjadi kenangan berharga, meski ia tidak berhasil masuk stadion pada laga pembuka.
Perjalanan ke benua Amerika juga bukan semata untuk menyaksikan sepak bola. Ia ingin melihat bagaimana Piala Dunia mampu mempertemukan banyak bangsa dan menyatukan berbagai perbedaan.
“Amerika Serikat dan Meksiko yang selama ini mungkin di berita kita tahu kurang akur, tetapi dalam Piala Dunia kali ini mereka harus bersatu untuk menjadi tuan rumah bersama,” ujarnya.
Dimyani juga melihat Piala Dunia sebagai ajang yang menggerakkan ekonomi. Selama berada di Mexico City, ia menyempatkan diri mengunjungi pasar UMKM di salah satu pusat fans zone.
“Dalam kesempatan saya di Mexico City ini saya mendatangi pasar UMKM yang digelar di salah satu pusat fans zone,” katanya.
Sebagai pelaku usaha, Dimyani juga memanfaatkan perjalanan tersebut untuk memperluas jejaring.
“Siapa tahu jejaring baru yang saya temui di sini bisa berkontribusi untuk pengembangan bisnis saya,” ucapnya.
Meksiko bukan akhir perjalanan Dimyani di Piala Dunia 2026. Ia berencana melanjutkan perjalanan ke Kanada dan Amerika Serikat untuk menyaksikan pertandingan lain.
"Pada 17 Juni 2026 ada pertandingan Ghana melawan Panama di Toronto. Lalu pada awal Juli nanti ada pertandingan babak 32 besar di Amerika Serikat," katanya.
Dimyani masih berharap bisa mendapatkan tiket pertandingan dan merasakan langsung atmosfer Piala Dunia dari dalam stadion.
Baginya, hadir di Piala Dunia dengan mengenakan jersey Indonesia menjadi bentuk sederhana untuk membawa nama Garuda di panggung sepak bola dunia.
ANTARA









