SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berencana mengembangkan potensi wisata budaya melalui penyelenggaraan ritual adat Tiwah dan Mamapas Lewu sebagai agenda tahunan daerah. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Dayak kepada masyarakat luas.

"Bupati sudah menyampaikan bahwa kegiatan Tiwah dan Memapas Lewu bisa dijadikan agenda daerah. Harapannya, mulai 2027 nanti dapat kita bahas dan ditetapkan secara lebih matang," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ramadansyah, Rabu, 17 Juni 2026.

Ia menjelaskan, apabila telah masuk dalam kalender kegiatan daerah, pelaksanaan kedua ritual budaya tersebut tidak lagi bergantung pada bantuan hibah kepada kelompok masyarakat. Sebaliknya, kegiatan akan menjadi bagian dari program pemerintah yang dirancang secara berkelanjutan dan terhubung dengan sektor pariwisata.

Menurutnya, Tiwah dan Mamapas Lewu memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi serta berpotensi menjadi daya tarik wisata unggulan di Kalimantan Tengah. Keunikan prosesi adat tersebut dinilai mampu menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.

"Ini bisa menjadi satu-satunya agenda budaya dan keagamaan yang terjadwal secara tetap di Kalimantan Tengah. Karena itu potensinya sangat besar untuk menarik wisatawan," ujarnya.

Ramadansyah menambahkan, Disbudpar Kotim juga berencana menghubungkan agenda budaya tersebut dengan destinasi wisata lain yang telah lebih dahulu dikenal wisatawan, seperti kawasan Taman Nasional Tanjung Puting di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Dengan jadwal yang pasti setiap tahun, wisatawan yang datang ke Kalimantan Tengah dapat merencanakan perjalanan mereka untuk menyaksikan langsung pelaksanaan Tiwah maupun Mamapas Lewu di Sampit.

"Kalau tanggalnya sudah tetap, promosi akan lebih mudah dilakukan. Wisatawan yang datang ke Kalimantan Tengah bisa sekaligus mengatur kunjungan ke Sampit untuk menyaksikan Tiwah maupun Memapas Lewu," katanya.

Dalam pelaksanaannya nanti, pemerintah daerah tetap akan melibatkan Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK) sebagai mitra. Keterlibatan lembaga tersebut dinilai penting karena memahami tata cara adat dan nilai-nilai keagamaan yang melekat dalam setiap prosesi ritual.

Selain menyiapkan konsep kegiatan, pemerintah daerah juga mulai memperhatikan kesiapan sarana pendukung, termasuk kawasan Kaharingan Center dan sejumlah lokasi yang selama ini menjadi pusat pelaksanaan kegiatan adat dan keagamaan umat Hindu Kaharingan.

Ramadansyah yakin agenda budaya tersebut mampu memberikan efek domino bagi perekonomian daerah. Kehadiran wisatawan diperkirakan akan meningkatkan aktivitas sektor perhotelan, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), jasa transportasi, hingga pelaku ekonomi kreatif.

"Kalau kegiatan ini masuk agenda daerah dan dipromosikan secara besar-besaran, tentu akan berdampak pada sektor perhotelan, UMKM, transportasi, dan usaha masyarakat lainnya," ujarnya.

Ia juga menilai bertambahnya akses transportasi udara menuju Sampit menjadi momentum yang tepat untuk mengembangkan wisata budaya. Kehadiran maskapai dengan kapasitas penumpang lebih besar diyakini akan memudahkan wisatawan berkunjung ke Kotim.

Ke depan, Tiwah dan Mamapas Lewu diharapkan dapat menjadi ikon wisata budaya baru yang memperkuat identitas Kotim sekaligus melengkapi berbagai agenda budaya yang telah lebih dulu dikenal masyarakat.

"Kalau ini terlaksana, maka akan menjadi agenda budaya dan keagamaan yang unik serta berpotensi menjadi satu-satunya di Kalimantan Tengah," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)