BORNEONEWS, Sampit – Pemanfaatan program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan dinilai mampu menjadi solusi percepatan pembangunan infrastruktur di daerah. Salah satu contohnya terlihat di Desa Kabuau, Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang berhasil membuka akses jalan sepanjang 10,2 kilometer melintasi kawasan danau melalui dukungan sejumlah perusahaan.
"Kalau hanya mengandalkan APBD, mungkin jalan ini belum bisa terbangun seperti sekarang. Karena itu saya selalu mendorong perusahaan agar CSR mereka benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat," kata Anggota DPRD Kotim Andi Lala, Kamis, 18 Juni 2026.
Ia menjelaskan, pembangunan akses jalan dari Parenggean menuju Desa Kabuau mulai dirintis pada 2021 saat dirinya masih menjabat sebagai Kepala Desa Kabuau. Saat itu, pembukaan badan jalan dilakukan melalui kolaborasi pemerintah desa dengan sejumlah perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.
Perusahaan pertama yang memberikan dukungan adalah PT KIU dengan membuka badan jalan sepanjang 7,2 kilometer. Selanjutnya, PT WMGK turut membantu pembangunan sekitar 1,5 kilometer dan PT SMP menambah sepanjang 1,5 kilometer.
"Pada 2021 kami mulai membuka badan jalan dengan dukungan CSR perusahaan. Dari sinilah akses menuju Kabuau mulai terbuka," ujarnya.
Andi Lala mengungkapkan, tantangan terbesar pembangunan jalan tersebut adalah kondisi medan yang sebagian besar berada di kawasan danau. Dari total panjang jalan 10,2 kilometer, sekitar 8,3 kilometer berada di area perairan dan lahan rendah yang harus ditimbun terlebih dahulu sebelum dapat dilalui kendaraan.
Kondisi itu membuat proses pembangunan memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Namun berkat dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, akses jalan akhirnya berhasil tembus pada 2023 dan menghubungkan Desa Kabuau dengan wilayah Parenggean.
Setelah menjadi anggota DPRD Kotim, Andi Lala kembali mengupayakan keterlibatan perusahaan untuk melanjutkan pembangunan melalui pekerjaan penimbunan badan jalan.
PT IBB kemudian mengambil bagian dengan melakukan penimbunan sepanjang 4,2 kilometer. Hingga saat ini sekitar 3 kilometer telah selesai dikerjakan sejak dimulai pada 2023.
Sementara itu, PT Billy juga berkontribusi melakukan penimbunan sepanjang 4,2 kilometer. Hingga 2025, realisasi pekerjaan yang telah diselesaikan mencapai sekitar 2 kilometer.
"Setelah jalan tembus pada 2023, fokus pembangunan berlanjut ke penimbunan agar akses semakin baik dan bisa digunakan masyarakat secara maksimal," katanya.
Lanjutnya, jika seluruh pekerjaan tersebut dikerjakan menggunakan anggaran pemerintah, nilainya diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah. Karena itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan perusahaan menjadi langkah efektif untuk mempercepat pembangunan tanpa membebani APBD secara penuh.
Ia berharap keberhasilan pembangunan jalan Kabuau dapat menjadi model bagi wilayah lain di Kotim yang masih membutuhkan akses transportasi dan infrastruktur dasar.
"CSR seharusnya tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diarahkan pada program yang benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Ketika digunakan untuk pembangunan jalan, dampaknya langsung terasa terhadap aktivitas ekonomi warga," tegasnya.
Dengan terbukanya akses tersebut, masyarakat kini lebih mudah mengangkut hasil pertanian dan perkebunan, memperlancar mobilitas antarwilayah, serta membuka peluang ekonomi baru di kawasan yang sebelumnya sulit dijangkau.
Andi Lala optimistis pembangunan jalan tersebut dapat dituntaskan dalam beberapa tahun ke depan sehingga masyarakat dapat menikmati akses yang lebih aman dan nyaman.
"Paling lambat tahun 2027 jalan ini sudah bisa dilintasi dengan aman dan nyaman," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/Y)









