BORNEONEWS, Nanga Bulik – Kabupaten Lamandau menyimpan aset konservasi yang cukup luas melalui keberadaan Taman Hutan Raya atau Tahura. Total kawasan tersebut mencapai 4.259,83 hektare, terdiri dari Tahura Bukit Benyawai seluas 2.436,39 hektare dan Tahura Bukit Selajaan seluas 1.823,44 hektare.
Bentang kawasan hutan itu menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan di Lamandau. Selain berfungsi sebagai ruang konservasi, Tahura juga memiliki nilai strategis untuk edukasi lingkungan, penelitian, hingga pemanfaatan jasa lingkungan yang tetap memperhatikan kelestarian.
Agar pengelolaannya lebih terarah, Pemerintah Kabupaten Lamandau mulai menyusun Rencana Pengelolaan Jangka Panjang atau RPJP Tahura. Dokumen tersebut akan menjadi pedoman pengelolaan kawasan konservasi untuk jangka waktu 10 tahun ke depan.
Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Setda Lamandau, Penyang mengatakan, pengelolaan Tahura membutuhkan perencanaan yang matang agar setiap program dan kegiatan dapat berjalan sesuai arah pelestarian kawasan.
“Pengembangan Tahura memerlukan dokumen RPJP yang memuat program dan kegiatan untuk jangka waktu 10 tahun ke depan,” kata Penyang saat membacakan sambutan Bupati Lamandau.
Menurutnya, RPJP menjadi dasar penting dalam menjaga keberlanjutan Tahura Bukit Benyawai dan Bukit Selajaan. Dengan dokumen tersebut, pengelolaan kawasan diharapkan tidak berjalan parsial, tetapi memiliki arah yang jelas dan terukur.
Kawasan Tahura di Lamandau berada di bawah pengelolaan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Lamandau. Melalui penyusunan RPJP, pemerintah daerah ingin memastikan fungsi konservasi tetap terjaga, sekaligus membuka ruang manfaat bagi masyarakat sekitar.
Penyang menyebut, Tahura memiliki potensi untuk dikembangkan sepanjang tidak mengabaikan prinsip pelestarian lingkungan. Karena itu, berbagai masukan dari pihak terkait dinilai penting dalam penyusunan dokumen tersebut.
“Harapan kami kiranya semua pihak dapat memberikan masukan yang positif terhadap rancangan dokumen RPJP Tahura ini, sehingga pengelolaan Tahura ke depannya dapat memberikan manfaat bagi kita semua,” ujarnya.
Dengan luasan lebih dari empat ribu hektare, Tahura Bukit Benyawai dan Bukit Selajaan menjadi salah satu modal ekologis penting bagi Lamandau. Pengelolaan yang berkelanjutan diharapkan mampu menjaga fungsi hutan, sekaligus memberi nilai tambah bagi pendidikan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.









