SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pelaku usaha di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai memampu beradaptasi dengan cepat dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi.  Itu terbukti dari mampunya para pelaku usaha dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi global, termasuk penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menembus kisaran Rp18.000 per dolar AS.

"Penguatan dolar tersebut sebagai bagian dari dinamika ekonomi global dan nasional yang dialami berbagai negara. Namun, kondisi ini belum berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi di Kotim, " ujar Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Setda Kotim, Rafiq Riswandi, Jumat,  19 Juni 2026.

Menurutnya, pelaku usaha dan masyarakat di Kotim memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi, sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan meskipun terjadi fluktuasi nilai tukar.

“Hingga kini belum menerima laporan khusus dari pelaku usaha mengenai dampak langsung kenaikan nilai tukar dolar terhadap kegiatan usaha mereka," ungkapnya. 

Lebih lanjut ia menegaskan pemerintah daerah tetap memantau perkembangan harga maupun ketersediaan barang untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah. 

“Kami terus melakukan pengendalian dan pemantauan di lapangan, baik terkait harga maupun ketersediaan barang. Tujuannya agar stabilitas ekonomi tetap terjaga,” jelas Rafiq.

Fokus utama pemerintah daerah saat ini adalah menjaga daya beli masyarakat agar tetap kuat di tengah tantangan ekonomi global. Selama kebutuhan pokok tersedia dan aktivitas ekonomi berjalan normal, kondisi perekonomian daerah diyakini akan tetap stabil.

“Yang paling penting adalah menjaga daya beli masyarakat tetap kuat. Selama kebutuhan masyarakat terpenuhi dan aktivitas ekonomi berjalan normal, maka kondisi ekonomi daerah akan tetap stabil,” tutupnya. (DEVIANA/H)