JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mengajak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mensinergikan program Relawan Mengajar dengan penugasan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026.

Tim Ekspedisi Patriot merupakan program Kementrans yang melibatkan akademisi muda Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan dan mengembangkan potensi ekonomi di kawasan transmigrasi.

Sedangkan Relawan Mengajar adalah program Kemendikdasmen bersama para relawan untuk memberikan pendampingan belajar kepada anak tidak sekolah (ATS).

Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menyatakan dalam keterangan resmi, Jumat 19 Juni 2026, bahwa Program TEP tahap pertama sudah berjalan pada 2025 lalu dengan diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan guru besar dari tujuh perguruan tinggi negeri (PTN) mitra.

Tahun ini program ini akan mengirim sarjana, master, doktor, hingga guru besar dari 10 PTN mitra serta 157 universitas dalam negeri dan luar negeri, termasuk University of Melbourne, University of Glasgow, dan King’s College London. “Di lingkup inilah Relawan Mengajar bisa disinergikan,” ujar Viva Yoga Mauladi.

Ia pun memberikan kesempatan bagi Kemendikdasmen untuk memperkenalkan program Relawan Mengajar pada acara pembekalan bagi 1.476 peserta yang lolos bergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot 2026 yang direncanakan berlangsung akhir Juli nanti.

Selain TEP, Viva mengatakan renovasi fasilitas sekolah merupakan program Kementrans lainnya yang dapat dikolaborasikan dengan Kemendikdasmen.

Ia menuturkan, pihaknya sudah merenovasi toilet di dua institusi pendidikan di Provinsi Gorontalo, yakni Sekolah Dasar Negeri (SDN) 10 Pulubala di Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo dan SDN 14 Sumalata di Kawasan Transmigrasi Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara.

Sementara Sekolah Dasar Instruksi Presiden (SD Inpres) 13 di Kawasan Transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, menerima bantuan renovasi ruang kelas, toilet, dan sarana air bersih.

“Apa yang dilakukan oleh Kementrans diharap mampu meningkatkan proses pendidikan anak-anak transmigran dan anak-anak masyarakat lain yang menempati kawasan transmigrasi,” ucap Wamentrans Viva.

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) Rita Pranawati mengungkapkan terdapat 70 ribu sekolah yang membutuhkan perbaikan sarana dan prasarana.

Ia menyatakan, puluhan ribu institusi pendidikan dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) tersebut memerlukan pembangunan maupun renovasi toilet agar layak pakai. Selain itu, terdapat pula usulan untuk membangun rumah dinas bagi para guru.

Pihaknya pun berharap dapat menjalin kerja sama antarkementerian untuk mengatasi permasalahan tersebut, terutama di sekolah-sekolah di kawasan transmigrasi dan 3T.

Tidak hanya pembangunan fasilitas fisik, Rita Pranawati juga mendukung implementasi program Relawan Mengajar bagi berbagai sekolah di kawasan transmigrasi.

ANTARA