PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo atau BOS bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah kembali melepasliarkan lima orangutan ke habitat alaminya.

Pelepasliaran tersebut dilakukan di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya atau TNBBBR sebagai bagian dari upaya konservasi orangutan dan pemulihan ekosistem hutan Kalimantan.

Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite, mengatakan lima orangutan tersebut telah melalui proses rehabilitasi panjang sebelum dinyatakan siap kembali hidup mandiri di alam liar.

“Setiap orangutan yang kembali ke hutan membawa cerita perjuangan yang panjang. Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru telah melalui bertahun-tahun rehabilitasi untuk belajar kembali menjadi orangutan liar,” kata Jamartin saat dikonfirmasi dari Palangka Raya, Jumat, 19 Juni 2026.

Ia menjelaskan, pelepasliaran ini bukan akhir dari proses penyelamatan, tetapi awal kehidupan baru bagi kelima orangutan tersebut di hutan Kalimantan.

Lima orangutan yang dilepasliarkan terdiri atas tiga betina dan dua jantan. Mereka sebelumnya menjalani rehabilitasi di Nyaru Menteng hingga dinilai mampu bertahan hidup di alam.

Salah satu orangutan yang dilepasliarkan adalah Himba, jantan berusia 15 tahun. Himba ditemukan saat masih bayi dalam kondisi mengalami luka bakar serius akibat kebakaran hutan.

Setelah menjalani rehabilitasi selama 14 tahun, Himba tumbuh menjadi individu yang tangguh, aktif menjelajah, dan memiliki kemampuan mencari pakan alami.

Selain Himba, ada Lykke, orangutan betina berusia 23 tahun. Lykke tiba di Nyaru Menteng bersama induknya ketika masih berusia sekitar satu bulan. Setelah hampir 22 tahun menjalani rehabilitasi, Lykke dikenal mandiri dan banyak beraktivitas di atas pohon.

Orangutan lainnya, Farida, merupakan betina berusia 19 tahun asal Tumbang Samba. Selama masa pra-pelepasliaran, Farida menunjukkan kemampuan eksplorasi dan adaptasi yang baik.

Bersama Nett dan Semeru, kelima orangutan tersebut kini memulai kehidupan baru di hutan Kalimantan.

Kepala BKSDA Kalimantan Tengah, Andi Muhammad Kadhafi, mengatakan setiap pelepasliaran orangutan merupakan bagian dari upaya bersama menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.

Ia menyebut pelepasliaran kali ini merupakan yang ke-47 yang dilakukan bersama Yayasan BOS di Kalimantan Tengah.

“Kami mengapresiasi kerja sama yang terus terjalin dalam mendukung konservasi orangutan dan habitatnya, sehingga upaya pelestarian ini dapat berjalan secara berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Kepala TNBBBR, Mochamad Satori, mengatakan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya menjadi salah satu kawasan penting bagi keberlangsungan hidup orangutan di alam liar.

Menurutnya, lima orangutan yang dilepasliarkan akan menjadi bagian dari ekosistem hutan yang terus dijaga bersama.

“Kehadiran mereka di alam memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hutan tropis, sehingga perlindungan kawasan konservasi harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas pihak dan dukungan masyarakat,” katanya.

Pelepasliaran ini diharapkan dapat memperkuat populasi orangutan di alam liar sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga hutan sebagai habitat satwa dilindungi.