BORNEONEWS, Sampit – Anggota DPRD Kotawaringin Timur atau Kotim, Andi Lala, menilai pembangunan akses jalan menuju Desa Kabuau, Kecamatan Parenggean, menjadi contoh positif pemanfaatan program corporate social responsibility atau CSR perusahaan.
Menurutnya, keterlibatan perusahaan melalui program CSR mampu membantu mempercepat pembangunan infrastruktur, terutama di wilayah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses.
“Jalan ini ditargetkan 2027 sudah bisa aman dan nyaman dilintasi. Kalau hanya mengandalkan APBD, kemungkinan jalan ini belum bisa dibangun seperti sekarang,” kata Andi di Sampit, Jumat, 19 Juni 2026.
Ia mengatakan, perusahaan perlu terus didorong agar program CSR benar-benar diarahkan pada kebutuhan mendasar masyarakat. Salah satunya pembangunan infrastruktur yang memberi manfaat jangka panjang.
Andi menjelaskan, gagasan pembukaan Jalan Kabuau telah dimulai sejak dirinya masih menjabat sebagai Kepala Desa Kabuau pada 2021. Saat itu, upaya tersebut dilakukan untuk membuka keterisolasian desa yang sebelumnya sulit dijangkau melalui jalur darat.
Pemerintah desa kemudian membangun komunikasi dengan sejumlah perusahaan agar ikut membantu pembukaan akses jalan menuju desa.
Dukungan pertama datang dari perusahaan yang membantu membuka badan jalan sepanjang 7,2 kilometer. Setelah itu, dua perusahaan lain turut berkontribusi dengan masing-masing membuka badan jalan sekitar 1,5 kilometer.
Melalui dukungan tersebut, akses dasar menuju Desa Kabuau mulai terbentuk secara bertahap. Namun, proses pembangunan tidak mudah karena sebagian jalur berada di kawasan rawa dan danau sehingga membutuhkan penimbunan dalam jumlah besar.
Upaya panjang itu mulai membuahkan hasil pada 2023. Akses jalan akhirnya berhasil tembus dan menghubungkan Kecamatan Parenggean dengan Desa Kabuau.
Setelah terpilih menjadi anggota DPRD Kotim, Andi Lala kembali mendorong perusahaan-perusahaan untuk melanjutkan peningkatan jalan melalui program penimbunan.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan dapat menjadi solusi efektif dalam mempercepat pembangunan wilayah pelosok, khususnya daerah yang masih sulit dijangkau.
Menurut Andi, keberhasilan pembukaan Jalan Kabuau dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Kotim yang masih menghadapi persoalan akses infrastruktur.
“CSR harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Ketika diarahkan untuk pembangunan jalan, manfaatnya bisa dirasakan bertahun-tahun dan berdampak langsung terhadap perekonomian warga,” ujarnya.
Ia berharap program CSR perusahaan di Kotim ke depan semakin terarah, transparan, dan selaras dengan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.









