PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pesatnya perkembangan sistem pembayaran digital di Indonesia membawa berbagai kemudahan bagi masyarakat. Namun di balik kemajuan tersebut, risiko kejahatan digital juga semakin meningkat.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, Yuliansah Andrias, mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital yang kini semakin beragam, mulai dari QRIS palsu, phishing hingga pembobolan rekening melalui ATM dan layanan perbankan digital.

"Peningkatan penggunaan pembayaran digital harus diimbangi dengan literasi dan kewaspadaan masyarakat. Generasi muda saat ini menjadi pengguna utama layanan pembayaran digital sehingga perlu memahami berbagai risiko yang mungkin muncul," kata Yuliansah dalam rilis OJK Kalteng pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Hal ini disampaikan Yuliansah saat Rapat Koordinasi Semester I Satgas PASTI Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya. Peringatan tersebut sejalan dengan data Satgas PASTI Provinsi Kalimantan Tengah yang mencatat 184 aduan aktivitas keuangan ilegal selama periode Januari hingga 31 Mei 2026. Mayoritas laporan berkaitan dengan pinjaman online ilegal yang mencapai 167 aduan.

Menurut Yuliansah, perkembangan ekonomi digital merupakan peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Namun tanpa pemahaman yang memadai, masyarakat berpotensi menjadi korban berbagai bentuk penipuan yang memanfaatkan teknologi digital.

Karena itu, Bank Indonesia terus memperkuat edukasi kepada masyarakat sekaligus meningkatkan pengawasan terhadap sistem pembayaran digital.

"Kami mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati dan mengingat prinsip 'Kalau Ragu, Stop Dulu'," tegasnya. (TESTI PRISCILLA/j)