BORNEONEWS, Istanbul – Seorang pejabat senior Amerika Serikat menyebut Israel dan Hizbullah telah menyepakati gencatan senjata mulai Jumat, 19 Juni 2026, pukul 16.00 waktu setempat atau 20.00 WIB.
Namun, pejabat tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai isi maupun mekanisme pelaksanaan kesepakatan tersebut.
Gencatan senjata itu disebut tercapai setelah sedikitnya 47 orang tewas dan sejumlah warga lainnya terluka dalam rangkaian serangan udara Israel di Lebanon selatan sejak Jumat pagi.
Di sisi lain, empat personel militer Israel juga dilaporkan tewas akibat serangan Hizbullah di Lebanon selatan.
Sebelumnya, pada Rabu, 17 Juni 2026, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani Nota Kesepahaman atau MoU Islamabad secara elektronik.
Nota kesepahaman itu disebut bertujuan mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran, sekaligus menghentikan serangan Israel ke Lebanon.
Dalam wawancara telepon dengan NBC News, Trump mengaku telah berbicara dengan otoritas Israel pada Jumat agar mereka menyetujui gencatan senjata dengan Hizbullah.
“Hasilnya positif,” kata Trump seperti dikutip wartawan NBC melalui media sosial X.
Meski ketegangan antara Israel dan Hizbullah masih berlangsung, Trump menyampaikan kepada NBC News bahwa hubungannya dengan pemimpin otoritas Israel, Benjamin Netanyahu, masih dalam kondisi baik.
“Kau hanya perlu tenang sedikit dan gunakan otakmu,” ujar Trump.
Berdasarkan data statistik resmi, serangan militer Israel di Lebanon sejak 2 Maret telah menyebabkan 3.912 orang tewas dan 11.873 orang terluka.
Serangan tersebut juga memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi.
Israel hingga kini masih menduduki sejumlah titik di Lebanon selatan. Sebagian wilayah telah diduduki selama beberapa dekade, sementara sejumlah titik lainnya diduduki setelah konflik kembali meningkat.
Dalam serangan terbaru ke Lebanon, pasukan Israel disebut menerobos perbatasan dan masuk hingga 10 kilometer ke wilayah negara tersebut.
Sumber: Anadolu/ANTARA









