BORNEONEWS, Jakarta – Lembaga Pemilih Indonesia atau LPI merilis hasil survei yang menyebut figur Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia, Kaesang Pangarep, ikut memperkuat citra PSI sebagai partai anak muda.
Direktur Riset dan Kebijakan Politik LPI, Fernando Emas, mengatakan daya tarik Kaesang terhadap publik tidak semata-mata karena statusnya sebagai putra Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Menurutnya, Kaesang juga dinilai mewakili generasi muda dan membawa citra pembaruan bagi PSI.
“Figur Kaesang dinilai dapat memperluas jangkauan pengenalan publik terhadap PSI serta dapat membawa semangat pembaruan,” kata Fernando dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu, 20 Juni 2026.
Fernando menjelaskan, hasil survei menunjukkan 69,7 persen responden menilai kepemimpinan Kaesang dapat memperkuat citra PSI sebagai partai yang dekat dengan Jokowi.
Selain itu, 68,2 persen responden mengakui ketertarikan mereka terhadap PSI turut dipengaruhi oleh figur Kaesang.
Survei tersebut juga mencatat 72 persen responden menilai Kaesang mewakili generasi muda. Alasan ini menjadi faktor yang paling banyak dipilih responden terkait daya tarik Kaesang terhadap PSI.
Sementara itu, sekitar 65 persen responden menilai Kaesang dapat membuat PSI lebih dikenal masyarakat. Sebanyak 61 persen responden menilai Kaesang membawa semangat pembaruan dalam politik.
Fernando menilai temuan tersebut menarik karena memperlihatkan Kaesang memiliki daya tarik tersendiri, meski faktor kedekatan dengan Jokowi tetap memberi pengaruh.
“Tetapi, dua hal ini, baik faktor Jokowi dan faktor Kaesang, pada akhirnya saling memperkuat satu sama lain dalam membentuk citra PSI sebagai partai anak muda yang diasosiasikan sebagai representasi politik Jokowi,” ujarnya.
Ia menambahkan, sosok Jokowi juga memberikan pengaruh signifikan terhadap citra dan tingkat kepercayaan publik terhadap PSI.
Berdasarkan temuan LPI, terjadi transfer citra antara figur Jokowi dan PSI. Rata-rata 70,2 persen responden menilai kedekatan PSI dengan Jokowi dapat meningkatkan citra positif terhadap partai tersebut.
Fernando menyebut citra positif itu tidak hanya mengasosiasikan PSI dengan figur Jokowi, tetapi juga dengan persepsi publik terhadap Jokowi yang dinilai merakyat dan memiliki gaya kepemimpinan khas.
Survei LPI menunjukkan rata-rata 64,9 persen responden menilai PSI merupakan partai yang merakyat seperti Jokowi.
Meski demikian, Fernando mengatakan survei juga menunjukkan tantangan besar bagi PSI dari sisi elektabilitas.
Saat responden ditanya pilihan partai jika pemilu digelar saat ini, PSI memperoleh 1,9 persen suara nasional.
Angka tersebut masih berada di bawah Partai Persatuan Pembangunan atau PPP yang meraih 2,8 persen, serta sedikit di atas Partai Perindo yang meraih 1 persen.
“Dengan kata lain, masih berada di bawah ambang batas parlemen atau sebesar 4 persen suara nasional,” kata Fernando.
Dalam survei tersebut, lima partai besar masih mendominasi peta elektoral nasional. Gerindra berada di posisi teratas dengan 21,9 persen, disusul PDI Perjuangan 19 persen, Golkar 8,1 persen, PKB 7,9 persen, dan PKS 4,7 persen.
Fernando menilai temuan itu menjadi paradoks sekaligus tantangan bagi PSI. Menurutnya, loyalitas terhadap Jokowi masih kuat, tetapi belum cukup untuk membuat pemilih berpindah ke PSI dalam jumlah signifikan.
Karena itu, modal citra dari sosok Jokowi dan Kaesang dinilai perlu dikonversi menjadi program kerja konkret dan substansi politik yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Jika tidak, popularitas yang menyertai nama Jokowi berisiko hanya menjadi citra di permukaan tanpa pernah benar-benar berubah menjadi suara di kotak pemilu,” ungkapnya.
Survei bertajuk Pengaruh Sosok Jokowi terhadap Citra PSI dalam Pandangan Masyarakat itu digelar secara daring di 32 provinsi pada 10-17 Juni 2026.
Survei melibatkan 1.922 responden yang merupakan warga negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas atau telah memiliki hak pilih, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
Sampel diambil menggunakan metode multistage random sampling dengan teknik stratified quota sampling berdasarkan wilayah, jenis kelamin, kelompok usia, dan pendidikan.
Survei tersebut memiliki tingkat kesalahan atau margin of error sebesar ±2,54 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
ANTARA









